Jumat, 27 September 2019

Sepi menyeruak

Sepi, sendiri.
Ruang gelap yang dingin menyelimuti malam hari
Sudut ruang semakin terasa sempit terisi
Dada mulai sesak dan tak tahan untuk menangisi
Segala kepedihan dihati.

Kembali meratapi rasa pilu sendiri
Sunyi senyap diujung kamar ku terdiam
Kembali meratapi betapa nelangsa diri ini
Menyumpah serapahkan kebodohan diri sendiri.

Gundah gulana, menyiksa hati dan pikiran
Keparat kau hal yang suka berlalu lalang!
Betapa bodohnya diri ini
Menciptakan jarak yang kian membuat sesak hati

Kau rasakan saja sendiri malam ini
Kian sunyi, dingin, mempersempit ruang gerakmu
Kian mencekam untuk menyiksamu sampai tersedu-sedu
Tiada ampun bagimu
Semua semakin membisu.

Sendiri, diruang gelap ini.
Ku menangis mulai meratapi
Betapa kosongnya jiwa ini
Betapa hausnya diri ini
Siramilah aku, siramilah dengan kesejukkan
Tolong jangan biarkan aku sendirian.

-PerempuanPenggemarRindu-

Ibu Pertiwi

Bu, kini kau tengah bersedih
Kini kau juga tengah menangis.
Kau tidak lagi sekuat batu karang yang diterjang ombak.
Kini kau bagai bunga yang kehilangan kelopak.

Bu, tempat kami berpijak kini tak lagi sama
Karna sedang diterpa badai kumpulan manusia.
Manusia-manusia biadab yang telah berdusta pada alam semesta dan juga seisinya!

Disini, terombang-ambing dalam semua kekacauan yang ada.
Memakan banyak darah sanak saudara,
Karena ulah beberapa manusia yang haus akan harta dan tahta!

Bu, tolong maafkan kami sebagai putra putrimu di Negri ini.
Ijinkan kami beraksi membela hak kami.
Di Negri tercinta, Bumi Pertiwi.

-PerempuanPenggemarRindu-