Selasa, 10 Desember 2019
Untukmu, Terimakasih.
Silahkan pergi. Pergi sejauh mungkin dan tak usah kembali.
Tapi, jangan lupa untuk menengok sesekali.
Dan, jangan menyesali apa yang telah kau tinggali.
Aku tetap disini, atas hal apapun yang telah terjadi.
Aku tetap disini, berdiri sendiri tapi tidak untuk menunggumu kembali.
Aku hanya berdiam ditempat sambil melihat seberapa jauh kau kuat untuk berlari.
Hingga kau lelah nanti, dan berpikir untuk berhenti menepi, aku masih tetap disini menertawakanmu sendiri.
Kita hanya dipertemukan sesaat, bukan untuk menetap.
Pergilah, kita sama-sama lelah oleh harap.
Kita sudah sama-sama lelah dirundung kekecewaan.
Dan kau hanya menjadikanku ketidakpastian yang kau abadikan.
Terimakasih, karna telah banyak memberi warna pelangi
Aku tak menyesal pernah jatuh hati
Namun, aku tak ingin mengulangnya bersamamu lagi
Aku takkan mengharapkan apapun, pada siapapun lagi.
Sudah cukup ku merasakan segala pedih dihati.
Tak ingin lagi ku merasakan sakitnya ditinggal pergi
Sudah cukup atas segala luka yang kau beri
Sudah cukup aku merasakan patah hati
Aku lelah untuk menata ulang kembali perasaan yang telah mati.
-PerempuanPenggemarRinndu-
Bimbang
Tolong lepaskanlah secara baik-baik.
Aku tak ingin memaksakan kalau memang bukan takdirnya.
Aku tak akan mempertahankanmu lagi dengan sebegitunya.
Entah terlepas dari siapa yang merasa kurang atau lebih,
Aku hanya tak ingin jika satu pihak saja yang masih terus mempertahankan
Sedangkan kau malah asik ingin diperjuangkan.
Setia tidak sebercanda itu, sayang.
Perihal kau bosan?
Tolong, katakan saja dengan gamblang.
Kau ingin sebuah perpisahan tanpa adanya pamitan?
Oh, sungguh itu sangat memalukan.
Kau datang dengan mengetuk pintu hati, tuan.
Lalu kau tiba-tiba pergi tanpa berpamitan?
Oh tuan, ini bukan PBB yang dengan mudahnya putar haluan
Ini hati yang memiliki segenap perasaan.
Jika ingin meninggalkan, pintu keluar ada disebelah sana
Cukup katakan saja, tak perlu menyembunyikan semuanya.
Perihal kau terlampau penat, melepaskan pun tak akan jadi masalah
Kau hanya butuh berterus terang
Berupaya sedikit gamblang akan lebih baik adanya
Perihal aku yang terluka, biar ku benahi nanti saja, tuan.
-PerempuanPenggemarRindu-
Seperti Hujan
Yaitu aroma tanah yang terjamah
Mereka bilang aku ini aneh,
Karena selalu suka saat air turun dari langit.
Mereka juga menyebutku gila,
Karena suka bercanda dengan hujan
Bercerita saat rintiknya menyapa.
Kau benar tentang hujan,
Ia selalu menggugah rasa rindu antara kita.
Aku harap, kau takkan pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita
Saat bersama, memandang langit hitam dan derasnya hujan yang menyapa.
Perihal hujan, sama saja dengan seputaran tentang rindu.
Tergeletak tak berdaya dengan sendu
Menangis dengan tersedu-sedu
Karna lisan ingin mengucap temu
Hujan, rindu ini belum selesai, bisikku.
-PerempuanPenggemarRindu-
Selasa, 29 Oktober 2019
Persetan dengan kebisuan
Kau tak tahu, seberapa banyak bantal ini menerima tetesan demi tetesan yang terurai dari mata.
Seberapa banyak tangisan yang ku buang sia-sia dan kau tak mengetahuinya.
Tuan, mengapa kau membuat diriku terasa begitu lemah?
Kau tak tahu bukan, seberapa kuat aku menahan jeritan tangisan malam?
seberapa remuk redam aku dalam diam?
Menangis tanpa suara, padahal hati sudah ingin menjerit!
Menahan kecewa dengan sengit!
Pertarungan hati dan pikiran semakin menjadi.
Memikirkan aku harus bertahan atau beranjak pergi?
Apakah hatimu masih layak aku huni?
Apakah hatiku masih kuat bertahan sendiri?
Menahan pilu bertubi-tubi, tapi kau acuh tak sadar diri.
Harus ku apakan perasaan ini, tuan?
Apakah aku harus tetap berdiri sendirian ditepi jalan?
Apakah aku harus tetap menunggu dalam kebimbangan?
Oh, persetan dengan kebisuan!
Aku benci jika harus terus melawan kerinduan, sendirian.
-PerempuanPenggemarRindu-
Selasa, 15 Oktober 2019
Rasanya Jatuh Cinta
Ketika menatap mata teduhnya, seakan membius untuk selalu terpana.
Senyumannya yang melebihi manisnya gula, membuatku jadi gila.
Tutur bicaranya yang lembut, dan hangat peluknya seakan menjadikan dunia hanya milik berdua.
Oh tuan, beginikah rasanya jatuh cinta?
Hanya ada satu nama yang terucap dalam setiap do'a.
Yang selalu dibisikkan ke bawah bumi
Didalam tikungan sepertiga malam, saat yang lain asik dalam mimpi.
Saat tatapan saling bertemu, tangan saling menggenggam, dan kita saling berpagutan dalam ciuman lembut yang memabukkan.
Oh tuan, suatu kejutan yang membuatku kecanduan.
Diri ini mulai tidak waras adanya,
Karena semakin dibuat jatuh cinta olehnya.
Hingga berulang kali pada orang yang sama.
Tuan, hari-hari ku kini menjadi lebih penuh warna.
Aku sedang tidak berdusta.
Sungguh, aku sangat bahagia.
Dan aku, sedang dimabuk asmara.
Mungkin, aku setengah gila.
Karena aku selalu saja terbayang akan dirimu.
Entah sedang apa diriku, selalu saja dihadiri oleh bayangmu.
Oh, bahkan aku sampai terspu malu padahal aku dan kamu sedang tidak bertemu.
Oh sungguh, ini lucu.
Jadi, beginikah rasanya jatuh cinta?
Membuat diri ini seakan gila, pandangan menjadi buta
Namanya selalu saja berputar dikepala
Oh, mungkin ini namanya Surga dunia.
-PerempuanPenggemarRindu-
Andai saja
Lebih baik, aku tak mengenalmu.
Cukup dengan menjadi penggemar rahasiamu
Yang dapat bertemu tanpa adanya rindu.
Hanya saja, kita lebih lucu memandang dari jauh.
Saling malu-malu kucing dan menyimpan gossip diperkumpulan geng masing-masing.
Kamu yang mengenalku sebegitunya, sedangkan aku yang hanya sekedarnya.
Bukan aku tak bersyukur pada Tuhan dan waktu yang telah membuat kita bertemu, sampai akhirnya kita bersatu.
Bukan aku tak berterimakasih pada alam semesta.
Hanya saja, aku kehilangan beberapa bagian dirimu saat kita pertama kali berjumpa.
Bertegur sapa, bertemu dan memupuk rindu, hingga akhirnya dekat tak ada sekat.
Meratapi kisah kita yang agak berjarak.
Tuan, ada apa gerangan?
Apakah ada yang kau sembunyikan?
Tolong katakan, bahwa akulah yang kau inginkan.
Akulah rumah tempat kamu untuk pulang.
Kitalah rumah yang dibangun dengan penuh kasih dan sayang.
Hati dan pikiranku semakin kronis.
Memikirkan hal-hal yang tidak realistis!
Membuat jiwa ini semakin meringis.
Aku lelah berkeluh kesah.
Aku pun tak ingin disebut bahwa aku ini lemah.
Jumat, 27 September 2019
Sepi menyeruak
Sepi, sendiri.
Ruang gelap yang dingin menyelimuti malam hari
Sudut ruang semakin terasa sempit terisi
Dada mulai sesak dan tak tahan untuk menangisi
Segala kepedihan dihati.
Kembali meratapi rasa pilu sendiri
Sunyi senyap diujung kamar ku terdiam
Kembali meratapi betapa nelangsa diri ini
Menyumpah serapahkan kebodohan diri sendiri.
Gundah gulana, menyiksa hati dan pikiran
Keparat kau hal yang suka berlalu lalang!
Betapa bodohnya diri ini
Menciptakan jarak yang kian membuat sesak hati
Kau rasakan saja sendiri malam ini
Kian sunyi, dingin, mempersempit ruang gerakmu
Kian mencekam untuk menyiksamu sampai tersedu-sedu
Tiada ampun bagimu
Semua semakin membisu.
Sendiri, diruang gelap ini.
Ku menangis mulai meratapi
Betapa kosongnya jiwa ini
Betapa hausnya diri ini
Siramilah aku, siramilah dengan kesejukkan
Tolong jangan biarkan aku sendirian.
-PerempuanPenggemarRindu-
Ibu Pertiwi
Bu, kini kau tengah bersedih
Kini kau juga tengah menangis.
Kau tidak lagi sekuat batu karang yang diterjang ombak.
Kini kau bagai bunga yang kehilangan kelopak.
Bu, tempat kami berpijak kini tak lagi sama
Karna sedang diterpa badai kumpulan manusia.
Manusia-manusia biadab yang telah berdusta pada alam semesta dan juga seisinya!
Disini, terombang-ambing dalam semua kekacauan yang ada.
Memakan banyak darah sanak saudara,
Karena ulah beberapa manusia yang haus akan harta dan tahta!
Bu, tolong maafkan kami sebagai putra putrimu di Negri ini.
Ijinkan kami beraksi membela hak kami.
Di Negri tercinta, Bumi Pertiwi.
-PerempuanPenggemarRindu-
Minggu, 18 Agustus 2019
Katamu Aku Iblis
Dasar Iblis!
Katamu,
Karena telah meninggalkanmu.
Dasar Iblis!
Katamu,
Karena telah menghancurkan harapanmu satu-satunya yang kau beri untuk ku.
Tidakkah kau lebih dari sekedar iblis, tuan?
Manusia macam apa yang mulutnya mampu berkata kasar?
Tidakkah kau lebih dari sekedar biadab, tuan?
Manusia macam apa yang mempunyai sifat arogan?
Tempramentalmu, egoismu, tutur bicara yang sangat kasar.
Dan dengan seenaknya kau bilang aku wanita tersabar?
Hahaha!! Belum saja kau ku tampar!
Andai kau sadar,
Tuan, tidak mengapa kau menyebutku iblis.
Yang penting dendam ku sudah habis.
Dirimu sudah terkikis
Dan hidupmu akan terus meringis.
Jahanam bukan?
Kembali hanya untuk menuntaskan luka yang belum kering.
Kau kira aku bodoh?
Mempercayai perubahanmu sepenuhnya?
Tidak tuan.
Ke egoisan yang selalu menuntut pengertian.
Enyah saja kau setan!
Tenang saja tuan, kini nikmati hidupmu dengan penuh kebencian.
Sedangkan aku? Menikmati hidup dengan penuh kesyukuran.
Silahkan saja kau benci padaku seumur hidup.
Biar kau rasakan bagaimana rasanya seperti aku waktu dulu.
Pembenci ulung? Aku.
Pendendam ulung? Itu juga aku.
Nikmati saja karma mu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Rabu, 07 Agustus 2019
Perginya Dirimu
Apa kabar? apakah kau baik-baik saja disana?
Aku merindukan dirimu yah.
Aku kesepian, dan hilang arah.
Ayah,
Ingin sekali ku gali gundukan itu.
Dan mencabut papan nama disetiap duka ku.
Biarlah nafasku yang ditukar untukmu.
Agar aku selalu bisa memelukmu.
Lewat dingin malam yang menyuap
Aku semakin terisak,
Ayah, bisakah aku meminta pada Tuhan agar memutar kembali waktu?
Agar aku dapat melihatmu lagi pada saat-saat terakhir sebelum kepergianmu?
Ayah,
Aku selalu mengharapkan engkau hadir dalam mimpiku
Mimpi yang sangat terasa nyata dalam tidurku
Mengapa kau tega meninggalkan aku secepat itu?
Aku selalu tidak siap untuk ditinggalkan olehmu.
Untuk tumbuh menjadi besar,
Tanpa kamu disisiku,
Menjadikan hari-hariku semakin pilu.
Ayah, aku rapuh tanpamu.
Hidupku tak seindah anak-anak yang lain,
Yang masih bisa mengajak ayahnya bermain.
Hidupku kini telah sepi,
Karena ditinggal ayah pergi.
Ayah, aku merindukanmu saat ini.
Rasa rindu yang takkan pernah bisa terobati.
Teringat betapa lembutnya saat kau usap kepalaku,
Teringat betapa tegasnya dirimu terhadapku,
Teringat betapa baiknya kau selalu menuruti apa mauku.
Seandainya saja, waktu sedikit tahu diri
Pasti ayah masih disini,
Tidak meninggalkan aku sendiri
Dan membiarkanku merasakan kehilangan yang teramat nyeri.
Ayah,
Jika aku harus mengikhlaskan dirimu pergi,
Tak apa..
Aku rela, semoga kau selalu tenang dialam sana.
Biarkan pilu ini, akan sembuh dengan sendirinya.
Terimakasih ayah, sampai berjumpa di dunia yang berbeda.
-PerempuanPenggemarRindu-
Ayah
Wajah mu yang rupawan, kini terkikis sudah oleh paparan panasnya matahari.
Senyum mu yang menawan, seakan tak pernah menunjukkan rasa kelelahan pada anakmu ini,
Padahal aku tahu, seberapa banyak pilu yang kau telan sendiri.
Ayah,
Kasih sayangmu takkan mampu digantikan oleh yang lain.
Didikanmu, menjadikan ku seorang anak yang disiplin.
Ketegasan sikapmu, luka-luka yang berbekas dalam tubuhmu
Tak menjadikanmu sosok ayah yang rapuh.
Ayah,
Kini tulang-tulangmu semakin rapuh
Anakmu ini belum mampu untuk menopangmu saat kau jatuh
Kini umur mu semakin menua dan aku terus beranjak dewasa
Tapi aku masih ingin terus dimanja.
Ayah,
Tetes keringatmu, senyumanmu, sikap tegasmu
Membuatku selalu rindu.
Saat ayah tidur, kutemukan sebuah kedamaian disana
Kedamaian asli tanpa topeng tanpa drama.
Kau menjadi dirimu yang sakit, rapuh dan menelan pahit-pahit segala derita.
Saat itulah aku tersadar, bahwa kau juga manusia biasa.
Ayah, betapa mulianya hatimu.
Kau banting tulang untuk anak dan istrimu.
Ayah,
Semoga Tuhan selalu memuliakan hidupmu,
Memberkahi hari-harimu, dan memperpanjang umurmu.
Hidupku, ku baktikan untuk ayah dan ibu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Pertemuan
Yang telah hadir dalam hidupku,
Memberikan warna pelangi baru
Hingga berjuta rasa yang menyentuh kalbu.
Ingatkah kamu?
Saat kita pertama kali bertemu?
Di depan pintu rumahmu, yang membuatku langsung diam membisu.
Melihat senyumanmu, mendengar suaramu, aku terdiam kaku.
Ingatkah kamu?
Saat aku memintamu agar menemaniku pergi ke toilet?
Dirimu menungguku dengan bersembunyi dan berakhir dengan membuatku kaget?
Menuruni anak tangga yang membuatku ingin terpeleset.
Hai, kamu ..
Yang sejak awal sudah mendapatkan ruang singgah dihatiku
Terimakasih atas pertemuan kita yang tidak sengaja itu,
Karena sekarang, kau telah menjadi bagian penting dalam hidupku.
Sekarang, kau selalu saja menjadi candu
Hingga namamu saja, selalu ku sebut dalam do'a disetiap sujudku.
Sekarang, yang selalu ku bisikkan pada bawah bumi adalah dirimu.
Semoga Tuhan menggetarkan hatimu untuk membuat kita menjadi satu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Harapan Klasik
Harapan itu semakin menjadi, ketika realita tak sesuai ekspektasi.
Kita semakin berharap besar ketika kita menginkan sesuatu hal, namun tidak bisa tercapai.
Satu hal yang perlu kita tahu,
bahwasannya dalam hal kerjasama pun,
kita tetap tidak boleh saling bergantung.
Meskipun pada hakikatnya kita adalah manusia yang saling ingin untung.
Satu hal lagi, mereka hanya ingin di mengerti tanpa pernah mau mengerti.
Apa itu sepadan?
Kurasa tidak.
Tapi, memang adanya seperti itu bukan?
Menunggu, tapi mau ditunggu.
Klasik bukan?
Hanya karena harapan yang tak sesuai keinginan.
Jujur saja, aku benci ke egoisan.
Tapi terkadang, kita harus menjadi bodoamatan, terhadap suatu hal yang berujung merugikan.
Contohnya, harapan.
Klasik bukan?
-PerempuanPenggemarRindu-
Jika
maka jadilah pelita di kehidupanku.
Jika cahaya mampu menerangi dunia gelapmu,
maka aku akan senang hati untuk memberikannya.
Jika hujan mampu mengiringi tangismu,
maka langitpun tak segan memberikannya untukmu.
Namun, jadilah lentera yang cahayanya mampu menerangi siapa saja.
Tidak begitu terang memang, namun dapat secercah cahaya.
Luka yang belum mengering memang dibiarkan terbuka lebar
Biarkan mengalir pedih dalam dada yang terus berdebar.
Menjadikannya semakin menganga agar ia tahu betapa miris hatinya.
Dan menemukan seseorang yang pernah patah adalah penyembuhnya.
-PerempuanPenggemarRindu-
Nelangsa
Harapanmu sia-sia, tidak ada artinya.
Akan ada suatu masa, dimana kamu merasa begitu kecewa
Hanya karena ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita.
Ada masanya, dimana kamu dianggap bukan sesiapa
Hanya karena kamu diperlakukan dengan berbeda.
Ada masanya, kamu dianggap begitu spesial dihatinya
Namun dibuat nelangsa oleh dirinya.
Sungguh, dirimu begitu nelangsa
Saat kau tahu bahwa kau telah memenangkan hatinya
Namun, pada akhirnya ia menjadikanmu sebagai pelarian saja.
Kau hanya sebuah mangsa yang mudah ditipu daya.
Sungguh, dirimu begitu nelangsa
Ketika ia dengan mudahnya mematahkan hatimu
Menghancurkan asa yakinmu,
Lalu tanpa rasa bersalah ia pergi dari hidupmu
Tanpa pernah mau permisi untuk berpaling dari dirimu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Kamis, 04 Juli 2019
Coba sesekali
Coba sesekali kita bertukar peran.
Dimana aku yang menghilang dan kau merasa diabaikan.
Dimana aku yang mengecewakan dan kau merasa sendirian.
Dimana aku yang pergi dan kau yang bertahan.
Coba sesekali kita bertukar pikiran.
Aku yang menggunakan logika dan kau gunakan perasaan.
Aku yang mempermainkan dan kau yang bersabar.
Aku yang menyakiti dan kau yang terus tegar.
Coba sesekali kita bertengkar.
Aku yang egois dan kau yang menangis.
Aku yang masa bodoh dan kau yang terlalu peduli.
Aku yang menguji dan kau yang di uji.
Coba tolong sesekali, kau hargai apa yang telah aku lakui.
Coba tolong sesekali, kau mengerti akan keinginan hati.
Coba tolong sesekali, kau biarkan hati kecilmu berbicara dan mengikuti nurani kemana ia akan berhenti.
Agar mengerti, bahwa perasaan memang tidak terkendali.
Kita tidak tahu seberapa jauh kita akan berjalan
Kita tidak tahu seberapa dalam perasaan ini akan menguji hati
Tapi coba mengerti sesekali bahwa yang namanya jatuh hati
Tidak perlu membatasi diri.
Biarkan ia mengalir mengikuti arus air.
Biarkan ia berjalan mengikuti waktu yang terus bergulir.
-PerempuanPenggemarRindu-
Berbeda ruang
Kau sendiri yang membatasi
Kau sendiri juga yang mencari kembali.
Aku tidak pergi, tuan.
Aku hanya tahu aturan.
Aku hanya mengikuti haluan
Kemana dirimu membawa ikatan
Aku hanya sadar diri
Untuk menempatkan posisi
Tuan, aku tidak tahu sekarang berada di zona ruang yang mana.
Karna kau telah membagi menjadi beberapa bagian.
Kini, ruang ku dan ruang mu tidak lagi sama.
Kini aku tersesat dalam ruang yang berbeda.
Tidak seperti biasanya, ruang ini telah dingin.
Tidak lagi hangat, sehangat biasanya.
Penyambutan yang semakin berbeda.
Membuat aku semakin hampa.
Aku ingin keluar dari zona
Tapi aku tak tahu dimana arahnya.
Aku masih terlalu sanggup untuk kembali mengetuknya
Aku masih terlalu sanggup untuk berdiri sendiri mengjaganya.
Tuan, tolong aku.
Aku rindu padamu.
Rindu ruang kita yang dulu.
Bukan seperti sekarang yang terasa amat semu.
Untuk bicarapun terasa amat kelu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Kamis, 20 Juni 2019
Tentang Hujan, Rindu dan Luka
Rintiknya masih sayup-sayup terdengar.
Rintik yang menyisakan basah sebagai bekas.
Seolah menyalahkanku tanpa batas.
Lagi-lagi aku kalah telak, tak dapat mengelak ketika hujan itu menumbuhkan dengan subur kenangan yang telah lalu.
Lagi-lagi aku kalah telak, tak dapat berkutik ketika rindu menyentuh kalbu.
Rindu kini menjelma jadi candu.
Bagaikan aroma kenzo bambu yang harumnya menyengat di indra penciumanku.
Aduhai, kepada siapa rindu ini akan berlabuh?
Sedangkan hatiku saja sedang rapuh.
Dua-tiga dermaga pun terlewat sudah dan menolak mentah-mentah.
Kemana lagi aku mencari arah?
Tuan, sudah cukup semua ini.
Aku pamit pergi dan tak ingin kembali.
Biar saja ku bentangkan lagi kepakkan ini, mengikuti arah angin walau semua terasa dingin.
Luka itu sedang dalam pembekuan.
Serpihan-serpihan hati yang pecah telah kembali terbentuk
Tinggal menunggu masalah waktu yang bekerja untuk membuat hati kembali tertutup.
-PerempuanPenggemarRindu-
Lihat aku
Kau hanya tak mencari aku
Sesungguhnya aku selalu siap menemanimu
Kau hanya tak ingin bersamaku.
Tuan, tak bisakah sedikit saja kau lihat aku?
Terlalu buruk kah aku bagimu?
Atau memang dirimu yang terlalu acuh padaku?
Hingga diri ini tak terlihat olehmu.
Sebagian dari hidupmu telah menjadi bagian dari hidupku
Tapi nyatanya, kau seakan tak tahu akan hal itu.
Egoiskah jika aku menamparmu dipipi lembutmu itu?
Agar kau tahu bahwa untuk melihatku bukan sesuatu hal yang tabu.
Sesungguhnya aku ingin pergi dari hidupmu
Tapi kau terus saja menghantui dengan bayangmu
Sesungguhnya aku ingin menata hatiku kembali
Tapi nyatanya, kau terlalu sering menorehkan luka dihati ini.
-PerempuanPenggemarRindu-
Pisah
Tidak ada lagi tentang kita
Bantal ini tak lagi basah
Jiwa ini kembali bernyawa
Lelah memuja harap
Lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa
Pada yang kerap menorehkan luka
Hati ini ingin kembali menata
Ingin ku baca ulang namun tak sempat;
Tulisan-tulisan dari percakapan kita yang telah lalu.
Lalu ada jeda yang tabu, ada diam yang beku.
Kita adalah jarak yang berjihad melawan rindu
Kala hujan, dibalik jendela aku sibuk merangkum gelisah
Enggan berurusan dengan resah
Tanpa ingin lagi berkeluh kesah
Bahwa kita sudah berpisah.
-PerempuanPenggemarRindu-
Rabu, 24 April 2019
Sepertinya kita
Aku yang terbiasa tanpamu, atau kamu yang terbiasa tanpa diriku?
Sepertinya kita berdua telah sama-sama terbiasa untuk tidak mencari satu sama lain lagi.
Sepertinya kita berdua telah sama-sama terbiasa untuk tidak menginginkan satu sama lain lagi.
Sepertinya kita berdua telah sama-sama terbiasa berada dalam kebisuan.
Sepertinya kita berdua telah sama-sama terbiasa untuk saling bertahan dalam diam.
Lalu pergi menghilang tanpa kejelasan.
Tolong sayang, aku punya hati, punya perasaan.
Lama kelamaan aku menjadi terbiasa tanpa adanya hadirmu disisi ku lagi.
Aku terbiasa dengan acuh dan diam mu.
Sebut saja kita ini egois, tapi disinilah kita sekarang.
Saling bertahan dalam diam, saling memperhatikan dari kejauhan.
Sampai kapan kita diam dan terhanyut dalam pikiran masing-masing?
Sayang, jika memang sudah tak ingin hadirku lagi, tolong katakan agar aku pergi kembali.
Jangan menghilang seperti ini.
Sayang, kau tahu? Kau telah mengembalikan mati rasa ku lagi.
-PerempuanPenggemarRindu-
Selasa, 02 April 2019
Tolong, bunuh raguku.
Disini, aku yang terlalu membutuhkanmu atau memang aku yang tak berarti lagi untukmu?
Apakah disana juga kau membutuhkanku? Atau memang kau sudah mengacuhkan diriku?
Apakah aku masih prioritasmu, atau hanya sekedar penghilang pilu?
Tolong, jawab aku.
Aku tak mau jika harus terluka lagi karena mu.
Jatuh ke kubangan yang sama lagi dan membuat ku semakin terjebak dalam bayang semu.
Tolong, berikan aku titik temu.
Agar aku tak selalu saja menahan rindu dalam kalbu.
Disini, seperti aku yang selalu bertahan
Sedangkan dirimu selalu saja mengacuhkan.
Disini, seperti aku yang selalu berusaha meredam
Sedangkan dirimu selalu saja bungkam.
Disini, seperti aku yang selalu saja memendam
Sedangkan dirimu selalu terdiam.
Oh sayang, tolong bicaralah.
Kita perlu berdiskusi tentang apa yang salah.
Bukan terdiam dan seolah bisu.
Aku bukan manusia yang berhati batu.
Maka dari itu, kita perlu titik temu.
Dan, aku butuh kepastianmu untuk membunuh raguku.
-PerempuanPenggemarRindu-
Senin, 25 Maret 2019
Kembalinya dirimu
Di antara banyak hal yang pernah kutemukan, ada satu hal yang sampai saat ini belum mampu aku pahami, "Tentang seseorang yang memberi pelukan bukan hanya untuk memberi senang, melainkan rasa tenang".
Sejak pertama aku mengenalnya, aku mulai benci membahas tentang perpisahan, juga kehilangan.
Begitu banyak rasa aman dan nyaman yang aku temukan.
Sejak aku mencintainya, semesta selalu saja memberi ruang untuk cinta dengan cara yang misterius.
Sejak aku bersamanya, aku jatuh cinta bukan hanya pada matanya saja, melainkan hatinya.
Terutama saat ia memberikan pelukan dengan tatapan hangat penuh kasih sayang.
Dalam dekapannya aku merasa tentram.
Tapi, semua musnah begitu saja saat ada penggoda datang menghampirinya dan aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya.
Aku menyiksa ia hingga ia harus merasakan kehilangan sama sepertiku.
Hingga tiba saatnya, saat waktu mempertemukan ku kembali dengannya.
Aku melihat betapa semrawutnya dia.
Waktu berlalu, aku dan dia kembali merajut apa yang belum terlaksana.
Aku kembali mempercayainya, merajut asa, dan kembali jatuh cinta padanya.
Ia memeluk ku, dan sungguh aku sangat merindukan pelukan itu. Dimana aroma khas tubuh sang empu, mampu membuatku menjadi candu.
Oh Tuhan, dia kembali. Dia tidak pergi lagi.
Aku tahu itu, karena cinta selalu tahu kemana raganya harus kembali.
Cinta selalu tahu, kemana ia harus pulang pada rumah hati yang telah ia singgahi sejauh apapun dia pergi.
-PerempuanPenggemarRindu-
Jumat, 15 Maret 2019
Rindu tak semestinya
Ragaku mulai lemah, menunggu kepastian tapi tak pernah pulang.
Aku lupa, bahwa ia telah pulang ke peluk kan yang lainnya.
Aku lupa, bahwa ia tidak menjadikan ku sebagai rumah untuk kembali singgah.
Ia telah pergi, bersama tambatan hati barunya.
Ia telah menemukan tempat singgah terbarunya saat ia mulai lelah.
Sedangkan aku, masih saja bertahan menata serpihan yang masih berserakkan.
Sedangkan aku, masih saja merindukkan ia yang tak seharusnya aku pikirkan.
Ia sudah berkelana jauh hingga menemukan kembali tempat ia berkeluh kesah.
Ia sudah berlari jauh ke depan, tanpa mau menoleh kebelakang.
Sedangkan aku, untuk membahagiakan diriku saja aku masih susah.
Sedangkan aku, masih saja berjalan ditempat yang sama dan berharap ia pulang.
Oh, sungguh aku merindukannya.
Merindukan dia yang dulu pernah menjadikan aku rumah untuk hatinya.
Oh, sungguh aku sangat egois bukan?
Merindukan seseorang yang tak semestinya aku rindukan.
-PerempuanPenggemarRindu-
Senin, 18 Februari 2019
Aku Takut
Aku takut,
Jika saat kaki ku melangkah maju
Lalu kaki mu melangkah mundur.
Aku takut,
Jika saat aku mulai menyapamu kembali
Kamu mengacuhkan ku tak peduli.
Aku takut,
Jika saat aku datang dan kamu malah pergi
Aku tak ingin lebih jauh dari ini
Cukup, sejauh awan dan bumi.
Aku takut,
Jika tatapan mata tak berarti apa-apa lagi untukmu
Jika kau tak lagi memandangku.
Oh baiklah, sudah cukup ku katakan jika
Aku lelah berandai-andai
Aku takut, jika kau pergi lagi
Aku takut, aku takut lelah untuk bertahan kembali.
-PerempuanPenggemarRindu-
Selasa, 12 Februari 2019
Salahku
Salahku, yang terlalu perasa atas apa yang telah dilakukan.
Salahku, yang terlalu menaruh harapan lebih dan berakhir kekecewaan.
Salahku, yang menganggap dirimu sebagai pujaan
Namun akhirnya aku hanya sebuah pelarian.
Mungkin memang salahku yang terlalu mudah jatuh pada ucapan manis.
Mungkin memang salahku yang terlalu mendamba hubungan yang harmonis.
Mungkin memang salahku yang terlalu optimis
Dalam memegang teguh perasaan hati untuk dirimu yang egois.
Salahku, yang terlalu perasa.
Salahku, yang terlalu mudah jatuh lebih dalam lagi ke kubangan penuh luka.
Kecewa, yang tiada tara.
Luka, yang kini kembali menganga.
Oh tuan, jika memang tak ada niat memberi harapan,
Jangan datangkan kebahagiaan bila semua itu hanyalah kepalsuan.
Oh tuan, jika memang berniat menusukan luka lebih dalam,
Kau sudah melakukan tikaman itu diam-diam.
-PerempuanPenggemarRindu-
Bisu
Bisu,
Terus saja kau membisu dalam diam mu yang semakin tak ku mengerti.
Terus saja kau membisu hingga lelah menghampiri.
Tak mengerti apa salahku, hingga kau terlalu bisu.
Tak mengerti apa yang sedang kau hindari, hingga tak ada kabar untukku.
Diam,
Terus saja kau diam dalam keheningan
Aku ingin lihat seberapa lama kau tahan?
Seberapa lama kau mampu menguji kesabaran.
Hening,
Dalam kedamaian malam, kau hanya mampu hadirkan kesunyian.
Dalam bayang-bayang yang melambai diatas awan,
Kau hanya mampu tebarkan senyum kepergian.
Oh,
Tenanglah tuan, aku mulai terbiasa dengan menghilangnya dirimu secara perlahan.
Tenanglah tuan, aku juga sudah terbiasa dengan kekecewaan.
Tak perlu khawatir lagi akan diriku kini.
Aku akan baik-baik saja tanpa hadirmu disini.
-PerempuanPenggemarRindu-
Senin, 14 Januari 2019
Candu ku adalah kamu
Candu
Bagiku, kamu adalah candu
Sesuatu hal yang selalu membuatku rindu.
Bagiku, kamu adalah semu
Sesuatu hal yang selalu membuatku pilu.
Canduku adalah kamu
Sesuatu hal yang selalu ingin ku tuntut untuk bertemu.
Canduku adalah kamu
Yang tercipta dari bagian rindu yang semakin menggebu.
Karena kamu adalah bagian dari canduku
Yang selalu dapat mengukir tawa di wajahku.
Karena kamu adalah bagian dari tumpukan rindu
Yang selalu mengetuk relung kalbu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Menemukanmu, Satu.
Jika saat menggenggam tanganmu, aku mampu merasakan denyut nadimu.
Beri tahu aku, bagaimana mungkin aku mampu tak mengingatmu?
Jika saat berada didekapmu, aku mampu merasakan degup jantungmu.
Jika menatap matamu saja, aku mampu melihat keteduhan padanganmu.
Jika aku memelukmu, aku mampu mencium aroma wangi tubuhmu.
Tapi, bagaimana bisa?
Sementara aku masih saja tersesat direlung jiwa,
Yaitu satu, dirimu.