Jumat, 18 November 2022

Ku kira kau rumah

Bolehkah kita bertemu?
Sekali saja, untuk terakhir kalinya
Aku ingin bercerita kepadamu perihal hati yang luka
Aku juga ingin bercerita kepadamu tentang bagaimana menemukan bahagia dengan sederhana

Kali ini, aku ingin bertanya pada semesta
Kenapa semesta terlalu jahat?
Kenapa semesta, selalu saja senang bercanda dan membuat kecewa
Aku lelah dengan lara

Kini aku sadar,
Aku adalah satu dari sekian banyak rumah yang kau jadikan tempat singgah
Aku salah, ku kira kau adalah rumah
Nyatanya kau hanya ingin menghilangkan resah

Tubuh yang sempat sehangat selimutku dikamar,
Juga senyaman pelukan si guling
Dan kamar yang selalu jadi pendengar
Nyatanya kini kian samar

Kau adalah tamu yang semu
Bahkan aku tak tahu kemana arah dan tujuan pulangmu
Aku terus mencari letak teduh dalam rumahmu, namun tak pernah ada
Kini aku kembali sendiri, layaknya sebatang kara


Lagi dan lagi, pulangku selalu hilang arah
Kemudian aku bertanya, salahku dimana?
Kenapa kau tidak bisa menetap di hati yang sama?
Lalu kau hanya bungkam tak bersuara.


-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 12 Oktober 2022

Bait-bait Semusim

 Ada yang pergi tanpa permisi

Ada yang hilang tanpa bilang

Ada yang pisah tanpa berbuat kisah

Dan ada yang akan tetap dirindukan meski sudah dipendam


Apa Tuan sudah pernah tahu?

Bahwa telah lama rindu berjihad melawan waktu

Melawan jarak demi sebuah sapa dan janji temu

Hingga lelah menunggu ribuan pelukan yang tak sempat dicumbu


Tuan, dalam sajak-sajak berbisik gundah

Ada puan insomnia yang resah

Lelah memuja harap

Lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa, pada yang kerap menorehkan luka


Malam semakin membawa gelisah

Menyebabkan sakit karna dipermainkan waktu

Dan berujung kecewa

Aku menjadi hampa


Candunya makin sekarat

Candunya membutuhkan dekap

Tuan, puan ini sedang mengalami sebuah rindu yang bangsat

Dan hanya tuan yang mampu menjadi obat


Bait-bait semusim kini telah berganti

Aku berlari tanpa menepi

Mencari kehangatan matahari

Namun, kau tak kunjung kembali

Dan hanya menggantung di atas bumi.


-PerempuanPenggemarRindu-

Tentang Hujan dan Secangkir Kopi

Biar aku ceritakan
Batang-batang hujan yang patah
Diatas genteng rumah
Tanah-tanah yang kembali basah
Menyapa soremu dengan indah

Hujan kali ini hanya ingin sekedar bertukar kabar
Bahwa disini 
Tak ada jeda bagi jera
Untuk menengahi kopi dan gula

Mungkin memang hujan
Melarut segala angan
Membawa kembali kenangan
Menghadirkan kembali mimpi yang enggan di ceritakan
Mengingat kembali dimana kita masih penuh kehangatan

Secawan hangatnya arabika
Meluap rona yang tak terbaca
Melerai angan yang beku
Mengikat haru yang berpadu

Cih, jadi ini rasanya rindu?
Dalam balutan hujan yang abadi
Rindumu takkan pernah pergi
Dalam kehangatan secangkir kopi
Mengingatkan ku pada kisah yang telah mati

Bersama pilu yang membilah hati
Arabika yang wangi, menyisakan sunyi
Bersama hujan yang tak kunjung berhenti
Perlahan ku bunuh kembali kamu dengan secangkir kopi.

-PerempuanPenggemarRindu-

Jumat, 02 September 2022

Semesta ku yang hilang

Kepada semesta yang tak biasanya hening

Saat ini, semua hal telah berubah menjadi luka yang entah memiliki penawar atau tidak

Apa kabar, semestaku?

Apakah kamu rindu?

Entah ini sudah melewati berapa banyak malam, tanpa adanya kamu di hari-hariku.


Semestaku, aku rindu pelukmu

Pelipur lara dikala hati dirundung kecewa

Saling bercerita saat dunia sedang tidak baik-baik saja

Semesta, kini aku hilang

Aku tidak tenang.


Berat sekali ya rasanya berbicara tentang mengikhlaskan

Bahkan, sampai saat ini pun aku masih membutuhkan waktu untuk itu

Perihnya memang sudah pergi

Tapi sisanya akan tetap menjadi luka.


Kini aku telah sampai pada titik dimana aku sudah tidak percaya pada semesta yang lainnya

Padahal, dulu kamu yang selalu bilang bahwa semua akan baik-baik saja dan berakhir bahagia

Nyatanya, kamu sebagai semesta hilang juga

Meninggalkan duka yang tak ada ujungnya.


Lalu, apa aku harus rela?

Kini semuanya punah

Hari-hari bersamanya kini telah usai

Semestaku telah hilang dan tak pernah kembali pulang


Aku sudah hancur, bahagiaku pun ikut melebur

Semesta milik ku kini telah abadi

Menghilang dari peradaban di bumi

Merelakannya pergi untuk bersama Sang Illahi.


-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 13 Juli 2022

Mati Rasa

Akhir-akhir ini aku suka kesendirian

Melepaskan satu per satu yang sebenarnya aku sendiri sudah tidak kuat lagi selama ini

Terlalu banyak hal yang beterbangan di kepalaku

Menjadikanku rumit untuk memulai sesuatu yang baru


Aku hidup dalam ruangku yang kini mendadak diam

Terbelenggu dan penuh kekosongan

Ruanganku kini sudah gelap dan tak lagi terang

Jangan mencoba masuk dan memberi warna kalau tidak mau tersesat sendirian


Akhir-akhir ini aku sering merasa hancur

Di rangkul oleh sakit dan kecewa

Aku juga sudah berdarah-darah melawan diriku sendiri

Jangan kau tambah lagi rasa sakit atas luka ini


Entah kapan diri ini akan berdamai dengan hati dan menerima semua yang terjadi

Aku mati rasa

Aku sudah tidak tahu lagi kemana aku harus berlari

Apakah aku juga masih pantas untuk merasa bahagia di tengah luka yang masih menganga?


Asaku hampir lenyap. Ingin rehat, tapi dipaksa bergerak demi sebuah harap

Rupanya lelah juga ya melawan kata hati

Untuk semesta yang terus berputar tetaplah menapaki aku di bumi

Biarkan waktu yang menceritakan bagaimana remuknya aku sekarang ini


-PerempuanPenggemarRindu-

Senin, 06 Juni 2022

Tentang Seorang Anak Perempuan

Ini tentang seorang anak perempuan, yang selalu terlihat ceria dan tersenyum lebar dihadapan banyaknya orang.

Tentang seorang anak perempuan yang ingin menyerah, namun ada secercah harapan orang tua yang selalu membayanginya.

Tentang seorang anak perempuan yang harus menepati janji pada dirinya sendiri untuk sukses dan mengangkat derajat keluarganya.

Tentang seorang anak perempuan yang selalu menangis di malam hari menjelang tidur, tatkala memikirkan kemana arah hidup akan membawanya.

Tentang seorang anak perempuan yang memikirkan betapa sulit untuk tetap terlihat bahagia ditengah-tengah tekanan yang ada.

Capek untuk bertahan, tentu saja.

Ini adalah tentang seorang anak perempuan yang dipatahkan berkali-kali dan masih dipaksa untuk tegar.

Tentang seorang anak perempuan yang dilatih keras oleh keadaan.

Ingin sekali membenci kehidupan yang perlahan mulai membunuh

Anak perempuan ini sudah banyak ditumbuk untuk terus tumbuh walaupun sudah rapuh

Anak perempuan ini sudah runtuh, dan tak lagi utuh.



-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 02 Maret 2022

Senja bersama luka

Selalu ada luka dikala senja

Menata cerita dan kisah dalam jiwa

Indah senja kala itu sirna seketika

Tatkala kau mengungkapkan segala rasa


Kala itu, kau menjanjikanku bahagia

Namun nyatanya, kau meninggalkan luka dibatas senja

Aku masih disini, bertahan dalam sendiri

Dimakan oleh sepi dan nyaris mati


Jika mesin waktu itu nyata

Aku ingin kembali ke waktu beberapa tahun lalu

Dan berusaha untuk menolak kedatanganmu

Sehingga aku tak akan membukakan pintu


Senja tidak sedang bercanda kala itu

Ia terbenam membawa pilu

Senja yang kemudian luka dan patah hati

Kemudian membunuh dirinya sendiri, agar sulit untuk ditemui.


-PerempuanPenggemarRindu-

Untuk kamu yang patah

Jangan terlalu baik, nanti kecewa
Harus sedikit egois agar bisa bahagia
Menerima takdir adalah awalnya
Ikhlas memeluk kecewa adalah kelanjutannya

Semua orang pernah berada dititik redup
Bahkan sebagian berpikir untuk apa hidup
Namun, semua selalu ada harapan seperti udara yang kau hirup
Bangkit lagi ya! Jangan tertutup

Untuk kamu yang patah,
Tertawa ya! Jangan terlalu hening
Setiap luka, akan sembuh mengering
Kalau memang kedatangannya untuk membuat bahagia
Lalu kenapa tiba-tiba pergi dan meninggalkan luka?

-PerempuanPenggemarRindu-

Aku, Rindu, dan Senja

Hari ini senja kembali menyapa

Dia bercerita tentang romansa diujung rasa

Desah resah kian bait yang tak terbaca

Sepenggal diksi melewati aksara


Aku hanya bisa mengungkapkan beberapa kata

Menggumpal dalam kalimat menyapa

Tentang aku, rindu, dan senja

Setidaknya aku bisa menerbangkan puing-puing asa


Katanya, kau hadir sebagai lentera

Nyatanya, kau malah menambah luka

Kini semua benar-benar sunyi

Senja telah pergi meninggalkan mentari

Namun senja tak pernah ingkar janji, bahwa ia pasti kembali.


-PerempuanPenggemarRindu- 

Pada Angin Senja

 Pada angin senja

Mengunjungi jauh, menyelisik rasa

Ada yang dipendam dalam balik dada

Membaluri jiwa yang menderita


Pada angin senja

Di tiap ruas-ruas waktu memicu

Ingin ku hempas jiwa yang menderita

Cedera karna penuh luka dan lara


Aku bertanya-tanya, "apakah ada orang disana?"

Diujung cakrawala, aku kesepian

Sendiri dijera oleh harapan

Diujung senja yang tiada tujuan

Apakah memang aku yang kau tuju untuk dihancurkan?


-PerempuanPenggemarRindu-

Hai, capek ya?

Engga apa-apa, nangis aja

Bukan berarti kamu cengeng,

Setidaknya bisa tenangin hati

Walau engga ada solusi.


Pasti capek ya?

Capek menutupi semua, padahal lagi engga baik-baik aja

Capek ya?

Disuruh ketawa dan dipaksa keadaan, buat engga ada apa-apa.


Pasti berat banget ya buat bertahan?

Pura-pura kuat padahal rapuh

Terkadang, kita dipaksa buat nerima keadaan

Tanpa dimintai persetujuan.


Muak ya?

Engga apa-apa teriak aja

Kamu udah hebat bisa dititik ini melewati semuanya

Kadang, memang takdir bisa membanting stir

Dan berjalan sebrengsek itu.


Hidup memang suka bercanda

Nangis aja engga apa-apa

Tapi, jangan nyerah ya!

Soalnya, kadang mereka seringkali lupa kalau orang yang tertawa bisa terluka juga.


-PerempuanPenggemarRindu-