Setelah semuanya selesai, hujan masih tak kunjung reda.
Rintiknya masih sayup-sayup terdengar.
Rintik yang menyisakan basah sebagai bekas.
Seolah menyalahkanku tanpa batas.
Lagi-lagi aku kalah telak, tak dapat mengelak ketika hujan itu menumbuhkan dengan subur kenangan yang telah lalu.
Lagi-lagi aku kalah telak, tak dapat berkutik ketika rindu menyentuh kalbu.
Rindu kini menjelma jadi candu.
Bagaikan aroma kenzo bambu yang harumnya menyengat di indra penciumanku.
Aduhai, kepada siapa rindu ini akan berlabuh?
Sedangkan hatiku saja sedang rapuh.
Dua-tiga dermaga pun terlewat sudah dan menolak mentah-mentah.
Kemana lagi aku mencari arah?
Tuan, sudah cukup semua ini.
Aku pamit pergi dan tak ingin kembali.
Biar saja ku bentangkan lagi kepakkan ini, mengikuti arah angin walau semua terasa dingin.
Luka itu sedang dalam pembekuan.
Serpihan-serpihan hati yang pecah telah kembali terbentuk
Tinggal menunggu masalah waktu yang bekerja untuk membuat hati kembali tertutup.
-PerempuanPenggemarRindu-
Kamis, 20 Juni 2019
Lihat aku
Sesungguhnya aku selalu ada
Kau hanya tak mencari aku
Sesungguhnya aku selalu siap menemanimu
Kau hanya tak ingin bersamaku.
Tuan, tak bisakah sedikit saja kau lihat aku?
Terlalu buruk kah aku bagimu?
Atau memang dirimu yang terlalu acuh padaku?
Hingga diri ini tak terlihat olehmu.
Sebagian dari hidupmu telah menjadi bagian dari hidupku
Tapi nyatanya, kau seakan tak tahu akan hal itu.
Egoiskah jika aku menamparmu dipipi lembutmu itu?
Agar kau tahu bahwa untuk melihatku bukan sesuatu hal yang tabu.
Sesungguhnya aku ingin pergi dari hidupmu
Tapi kau terus saja menghantui dengan bayangmu
Sesungguhnya aku ingin menata hatiku kembali
Tapi nyatanya, kau terlalu sering menorehkan luka dihati ini.
-PerempuanPenggemarRindu-
Kau hanya tak mencari aku
Sesungguhnya aku selalu siap menemanimu
Kau hanya tak ingin bersamaku.
Tuan, tak bisakah sedikit saja kau lihat aku?
Terlalu buruk kah aku bagimu?
Atau memang dirimu yang terlalu acuh padaku?
Hingga diri ini tak terlihat olehmu.
Sebagian dari hidupmu telah menjadi bagian dari hidupku
Tapi nyatanya, kau seakan tak tahu akan hal itu.
Egoiskah jika aku menamparmu dipipi lembutmu itu?
Agar kau tahu bahwa untuk melihatku bukan sesuatu hal yang tabu.
Sesungguhnya aku ingin pergi dari hidupmu
Tapi kau terus saja menghantui dengan bayangmu
Sesungguhnya aku ingin menata hatiku kembali
Tapi nyatanya, kau terlalu sering menorehkan luka dihati ini.
-PerempuanPenggemarRindu-
Pisah
Kini usai sudah semua kisah
Tidak ada lagi tentang kita
Bantal ini tak lagi basah
Jiwa ini kembali bernyawa
Lelah memuja harap
Lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa
Pada yang kerap menorehkan luka
Hati ini ingin kembali menata
Ingin ku baca ulang namun tak sempat;
Tulisan-tulisan dari percakapan kita yang telah lalu.
Lalu ada jeda yang tabu, ada diam yang beku.
Kita adalah jarak yang berjihad melawan rindu
Kala hujan, dibalik jendela aku sibuk merangkum gelisah
Enggan berurusan dengan resah
Tanpa ingin lagi berkeluh kesah
Bahwa kita sudah berpisah.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada lagi tentang kita
Bantal ini tak lagi basah
Jiwa ini kembali bernyawa
Lelah memuja harap
Lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa
Pada yang kerap menorehkan luka
Hati ini ingin kembali menata
Ingin ku baca ulang namun tak sempat;
Tulisan-tulisan dari percakapan kita yang telah lalu.
Lalu ada jeda yang tabu, ada diam yang beku.
Kita adalah jarak yang berjihad melawan rindu
Kala hujan, dibalik jendela aku sibuk merangkum gelisah
Enggan berurusan dengan resah
Tanpa ingin lagi berkeluh kesah
Bahwa kita sudah berpisah.
-PerempuanPenggemarRindu-
Langganan:
Komentar (Atom)