Minggu, 18 Agustus 2019

Katamu Aku Iblis

Dasar Iblis!
Katamu,
Karena telah meninggalkanmu.
Dasar Iblis!
Katamu,
Karena telah menghancurkan harapanmu satu-satunya yang kau beri untuk ku.

Tidakkah kau lebih dari sekedar iblis, tuan?
Manusia macam apa yang mulutnya mampu berkata kasar?
Tidakkah kau lebih dari sekedar biadab, tuan?
Manusia macam apa yang mempunyai sifat arogan?

Tempramentalmu, egoismu, tutur bicara yang sangat kasar.
Dan dengan seenaknya kau bilang aku wanita tersabar?
Hahaha!! Belum saja kau ku tampar!
Andai kau sadar,

Tuan, tidak mengapa kau menyebutku iblis.
Yang penting dendam ku sudah habis.
Dirimu sudah terkikis
Dan hidupmu akan terus meringis.

Jahanam bukan?
Kembali hanya untuk menuntaskan luka yang belum kering.
Kau kira aku bodoh?
Mempercayai perubahanmu sepenuhnya?
Tidak tuan.

Ke egoisan yang selalu menuntut pengertian.
Enyah saja kau setan!
Tenang saja tuan, kini nikmati hidupmu dengan penuh kebencian.
Sedangkan aku? Menikmati hidup dengan penuh kesyukuran.

Silahkan saja kau benci padaku seumur hidup.
Biar kau rasakan bagaimana rasanya seperti aku waktu dulu.
Pembenci ulung? Aku.
Pendendam ulung? Itu juga aku.
Nikmati saja karma mu.

-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 07 Agustus 2019

Perginya Dirimu

Hai,Ayah..
Apa kabar? apakah kau baik-baik saja disana?
Aku merindukan dirimu yah.
Aku kesepian, dan hilang arah.

Ayah,
Ingin sekali ku gali gundukan itu.
Dan mencabut papan nama disetiap duka ku.
Biarlah nafasku yang ditukar untukmu.
Agar aku selalu bisa memelukmu.

Lewat dingin malam yang menyuap
Aku semakin terisak,
Ayah, bisakah aku meminta pada Tuhan agar memutar kembali waktu?
Agar aku dapat melihatmu lagi pada saat-saat terakhir sebelum kepergianmu?

Ayah,
Aku selalu mengharapkan engkau hadir dalam mimpiku
Mimpi yang sangat terasa nyata dalam tidurku
Mengapa kau tega meninggalkan aku secepat itu?
Aku selalu tidak siap untuk ditinggalkan olehmu.

Untuk tumbuh menjadi besar,
Tanpa kamu disisiku,
Menjadikan hari-hariku semakin pilu.
Ayah, aku rapuh tanpamu.

Hidupku tak seindah anak-anak yang lain,
Yang masih bisa mengajak ayahnya bermain.
Hidupku kini telah sepi,
Karena ditinggal ayah pergi.

Ayah, aku merindukanmu saat ini.
Rasa rindu yang takkan pernah bisa terobati.
Teringat betapa lembutnya saat kau usap kepalaku,
Teringat betapa tegasnya dirimu terhadapku,
Teringat betapa baiknya kau selalu menuruti apa mauku.

Seandainya saja, waktu sedikit tahu diri
Pasti ayah masih disini,
Tidak meninggalkan aku sendiri
Dan membiarkanku merasakan kehilangan yang teramat nyeri.

Ayah,
Jika aku harus mengikhlaskan dirimu pergi,
Tak apa..
Aku rela, semoga kau selalu tenang dialam sana.
Biarkan pilu ini, akan sembuh dengan sendirinya.
Terimakasih ayah, sampai berjumpa di dunia yang berbeda.

-PerempuanPenggemarRindu-
 

Ayah

Ayah,
Wajah mu yang rupawan, kini terkikis sudah oleh paparan panasnya matahari.
Senyum mu yang menawan, seakan tak pernah menunjukkan rasa kelelahan pada anakmu ini,
Padahal aku tahu, seberapa banyak pilu yang kau telan sendiri.

Ayah,
Kasih sayangmu takkan mampu digantikan oleh yang lain.
Didikanmu, menjadikan ku seorang anak yang disiplin.
Ketegasan sikapmu, luka-luka yang berbekas dalam tubuhmu
Tak menjadikanmu sosok ayah yang rapuh.

Ayah,
Kini tulang-tulangmu semakin rapuh
Anakmu ini belum mampu untuk menopangmu saat kau jatuh
Kini umur mu semakin menua dan aku terus beranjak dewasa
Tapi aku masih ingin terus dimanja.

Ayah,
Tetes keringatmu, senyumanmu, sikap tegasmu
Membuatku selalu rindu.
Saat ayah tidur, kutemukan sebuah kedamaian disana
Kedamaian asli tanpa topeng tanpa drama.

Kau menjadi dirimu yang sakit, rapuh dan menelan pahit-pahit segala derita.
Saat itulah aku tersadar, bahwa kau juga manusia biasa.
Ayah, betapa mulianya hatimu.
Kau banting tulang untuk anak dan istrimu.

Ayah,
Semoga Tuhan selalu memuliakan hidupmu,
Memberkahi hari-harimu, dan memperpanjang umurmu.
Hidupku, ku baktikan untuk ayah dan ibu.

-PerempuanPenggemarRindu-

Pertemuan

Hai, kamu..
Yang telah hadir dalam hidupku,
Memberikan warna pelangi baru
Hingga berjuta rasa yang menyentuh kalbu.

Ingatkah kamu?
Saat kita pertama kali bertemu?
Di depan pintu rumahmu, yang membuatku langsung diam membisu.
Melihat senyumanmu, mendengar suaramu, aku terdiam kaku.

Ingatkah kamu?
Saat aku memintamu agar menemaniku pergi ke toilet?
Dirimu menungguku dengan bersembunyi dan berakhir dengan membuatku kaget?
Menuruni anak tangga yang membuatku ingin terpeleset.

Hai, kamu ..
Yang sejak awal sudah mendapatkan ruang singgah dihatiku
Terimakasih atas pertemuan kita yang tidak sengaja itu,
Karena sekarang, kau telah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Sekarang, kau selalu saja menjadi candu
Hingga namamu saja, selalu ku sebut dalam do'a disetiap sujudku.
Sekarang, yang selalu ku bisikkan pada bawah bumi adalah dirimu.
Semoga Tuhan menggetarkan hatimu untuk membuat kita menjadi satu. 

-PerempuanPenggemarRindu-

Harapan Klasik

Ternyata, semua bisa hancur begitu saja hanya karena harapan yang dibangun tanpa sengaja pada seseorang.
Harapan itu semakin menjadi, ketika realita tak sesuai ekspektasi.
Kita semakin berharap besar ketika kita menginkan sesuatu hal, namun tidak bisa tercapai.

Satu hal yang perlu kita tahu,
bahwasannya dalam hal kerjasama pun,
kita tetap tidak boleh saling bergantung.
Meskipun pada hakikatnya kita adalah manusia yang saling ingin untung.

Satu hal lagi, mereka hanya ingin di mengerti tanpa pernah mau mengerti.
Apa itu sepadan?
Kurasa tidak.
Tapi, memang adanya seperti itu bukan?
Menunggu, tapi mau ditunggu.

Klasik bukan?
Hanya karena harapan yang tak sesuai keinginan.
Jujur saja, aku benci ke egoisan.
Tapi terkadang, kita harus menjadi bodoamatan, terhadap suatu hal yang berujung merugikan.
Contohnya, harapan.
Klasik bukan?

-PerempuanPenggemarRindu-

Jika

Jika kedatanganmu bisa kembali menerangkan duniaku,
maka jadilah pelita di kehidupanku.
Jika cahaya mampu menerangi dunia gelapmu,
maka aku akan senang hati untuk memberikannya.

Jika hujan mampu mengiringi tangismu,
maka langitpun tak segan memberikannya untukmu.
Namun, jadilah lentera yang cahayanya mampu menerangi siapa saja.
Tidak begitu terang memang, namun dapat secercah cahaya.

Luka yang belum mengering memang dibiarkan terbuka lebar
Biarkan mengalir pedih dalam dada yang terus berdebar.
Menjadikannya semakin menganga agar ia tahu betapa miris hatinya.
Dan menemukan seseorang yang pernah patah adalah penyembuhnya.

-PerempuanPenggemarRindu-

Nelangsa

Akan tiba suatu masa, dimana kamu merasa begitu hampa
Harapanmu sia-sia, tidak ada artinya.
Akan ada suatu masa, dimana kamu merasa begitu kecewa
Hanya karena ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita.

Ada masanya, dimana kamu dianggap bukan sesiapa
Hanya karena kamu diperlakukan dengan berbeda.
Ada masanya, kamu dianggap begitu spesial dihatinya
Namun dibuat nelangsa oleh dirinya.

Sungguh, dirimu begitu nelangsa
Saat kau tahu bahwa kau telah memenangkan hatinya
Namun, pada akhirnya ia menjadikanmu sebagai pelarian saja.
Kau hanya sebuah mangsa yang mudah ditipu daya.
 
Sungguh, dirimu begitu nelangsa
Ketika ia dengan mudahnya mematahkan hatimu
Menghancurkan asa yakinmu,
Lalu tanpa rasa bersalah ia pergi dari hidupmu
Tanpa pernah mau permisi untuk berpaling dari dirimu.

-PerempuanPenggemarRindu-