Blog Kumpulan Sajak
Senin, 09 Februari 2026
Aku Luka yang Kalian Besarkan
Rumah yang Mengikis Jiwa
tapi di sini aku belajar menelan suara sendiri.
Tertawa hanya hiasan,
menangis dianggap durhaka.
Aku tumbuh dari kata-kata yang tidak pernah lembut,
dari tatapan yang selalu mencari salah.
Mental ini bukan rapuh sejak lahir,
ia retak oleh orang-orang yang seharusnya menjaga.
Keluarga bilang, "Kami mendidik".
Padahal yang mereka lakukan adalah mematahkan perlahan,
lalu heran mengapa aku tak utuh
Menjadi dingin dan menjadi jauh.
Aku dipeluk tanpa kehangatan,
dinasehati tanpa empati.
Luka batin dianggap kurang iman,
kelelahan jiwa disebut drama.
Jika hari ini aku pendiam,
itu karena dulu suaraku tak pernah dipilih.
Jika hari ini aku keras pada diri sendiri,
itu karena rumah mengajariku mencurigai bahagia.
Aku tidak membenci keluarga,
aku hanya lelah terus memaafkan
tanpa pernah di minta maaf.
Dan bila suatu hari aku sembuh,
bukan karena mereka.
Melainkan karena aku memilih menyelamatkan diriku sendiri.
-Perempuan Penggemar Rindu-
Jumat, 16 Januari 2026
Hancur Mana yang Tidak Kurapihkan Sendiri
Hancur mana yang tidak kurapihkan sendiri,
Ingin pulang, tapi tahu kalau rumah sudah bukan tempat pulangmu lagi.
Capek, harus selalu berpura-pura.
Retak demi retak kupungut tanpa suara.
Tak ada tangan yang tinggal, saat aku jatuh paling dalam.
Aku belajar berdiri dari puing,
Menjahit luka dengan sisa harap.
Menahan perih tanpa saksi,
Menangis sebentar, lalu bangkit pelan.
Jika hari ini aku tampak utuh,
Itu bukan karena hidup ramah padaku,
Melainkan karena aku menolak mati
Di reruntuhan yang mereka tinggalkan.
Aku tidak lahir kuat,
Aku hanya terlalu sering dipaksa bertahan.
Jika hari ini aku tampak tenang,
Percayalah, itu hasil dari ribuan perang yang tak pernah kau lihat.
-PerempuanPenggemarRindu-
Untuk Ibu dan Ayah
Jika benar ada kehidupan setelah ini, mari kita tidak saling bertemu lagi.
Mari kita sepakat untuk tidak menjadi keluarga yang sama lagi, agar luka ini tidak kembali lahir, dan trauma ini tidak lagi tumbuh dalam jiwa yang baru.
Untuk Ibu;
Menikahlah dengan pria yang kau cintai sepenuh hati, pria yang bisa menjagamu dengan cinta dan kelembutan,
Yang memelukmu, bukan meninggalkanmu.
Di kehidupan itu nanti, semoga kau sehat selalu, bebas bepergian ke mana pun yang kau inginkan, dan akhirnya bisa mewujudkan cita-citamu tanpa beban.
Tanpa aku, tanpa luka ini.
Untuk Ayah;
Jadilah sosok yang lebih baik, sosok yang tidak mewariskan luka, sosok yang layak menjadi panutan dan pelindung bagi keluarganya.
Jika benar ada kesempatan kedua, berubahlah.
Tapi jangan lagi menjadi ayahku.
Abadilah dalam rasa sesal yang kau tinggalkan.
Aku ikhlas, tidak hadir kembali sebagai anak kalian.
Agar semuanya berakhir di sini.
Agar tak ada hati yang perlu menanggung luka yang bukan miliknya lagi.
Dan untuk semesta,
Jika ada kehidupan selanjutnya, izinkan aku memilih tak lahir dari cinta yang setengah hati.
Karena aku lelah belajar bertahan di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, tapi justru paling melukai.
-PerempuanPenggemarRindu-
Rabu, 03 September 2025
Mencari sembuh
Selasa, 02 September 2025
Senja, apakah aku boleh marah?
Aku lelah menahan semuanya sendiri.
Terlalu sering aku menelan air mata sampai asin dan pahitnya mengendap di dada, berubah menjadi darah yang membuatku sesak.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku selalu patah sebelum sampai ke bibir.
Seolah dunia tidak pernah mau benar-benar mendengar, seolah semua orang sibuk menutup telinga sambil berkata, sabar, sabar.
Padahal sabar itu sudah lama menahanku dalam kurungan yang gelap.
Tapi, senja—
Aku muak dengan diam yang dipuja!
Aku ingin marah, senja, aku ingin teriak sekeras-kerasnya sampai langit retak, sampai bumi terguncang, sampai semua dusta runtuh dan semua kepura-puraan tak bisa lagi disembunyikan.
Aku bukan batu yang bisa dipukul terus tanpa hancur.
Aku bukan tanah yang bisa diinjak tanpa bekas.
Aku manusia, senja.
Kalau marah adalah dosa, biarlah aku berdosa.
Biarlah aku terbakar oleh amarahku sendiri, asalkan aku bisa merasa bebas—bebas dari penjara yang mereka namakan tabah.
-Perempuan Penggemar Rindu-
Jumat, 14 Maret 2025
Ayah, Aku Ikhlas Tapi Aku Capek
Ayah, aku ikhlas tapi aku capek
Capek pura-pura engga kenapa-napa
Capek mengubur semua mimpi-mimpi
Capek karna terus berlari yang engga tahu kemana arahnya
Capek karna harus terus berdiri sendiri
Menjadi kuat, meski hidup sudah berantakan
Menjalani hari dengan senyum yang ku paksakan
Berpura-pura baik saat jiwa ini sudah tumbang
Kemana aku harus pulang?
Sedangkan setiap hari, aku cuman bisa bertarung dengan apa yang dunia butuhkan
Ayah, aku ikhlas tapi aku capek
Aku capek bertahan sendirian
Sedangkan banyak yang butuh aku untuk terus bertahan
Dan sepertinya memang benar, kalau bukan aku yang beresin, siapa lagi?
Nanti semuanya berantakan lagi
Ayah, aku bisa baik-baik saja disini
Tapi banyak tawa palsu yang sering aku jadikan pelindung untuk menutupi luka
Biar mereka semua tahu, bahwa aku memang sebaik-baik saja itu
Dan biar mereka semua tahu, bahwa sedang tidak terjadi apa-apa
Sepandai itu aku menutupi dengan topeng yang aku miliki
Tapi ayah, jujur aku kadang engga kuat
Apalagi setiap aku engga bisa wujudin keinginan yang ayah mau
Hal-hal apa yang mamah butuh
Sampai apa yang aku butuh pun, harus aku taruh di halaman kesekian
Ayah, ini capeknya harus dikemanakan ya?
Aku takut semakin sakit dalam memendam marah
Aku takut jadi banyak salah
Ayah, ini arahnya kemana ya?
-PerempuanPenggemarRindu-