Jumat, 30 Maret 2018

Candu

Aku tidak mencandu kopi, awalnya.
Namun setelah sekian hari pekatnya mampu membantuku membuka mata, aku mencandunya.

Aku tidak mencandu hujan, awalnya.
Namun setiap tetesnya mampu menyembunyikan tangisku, aku mencandunya.

Aku tidak mencandu senja, awalnya.
Namun setiap warnanya mampu menggambarkan rasa rinduku terhadapnya, aku mencandunya.

Jadi, kamu sekarang tahu.
Aku bersikap acuh tak acuh bukan karena tak perduli padamu.
Hanya saja aku tak ingin menjadikanmu sebagai canduku.
Karena sekali aku memulai, aku tak akan sanggup untuk tidak mencandumu.


-PerempuanPenggemarRindu-

Saat Kau tak disini

Ku coba untuk melawan takut saat sendiri.
Ku coba untuk jalani hari walau terasa sepi.
Menghadapi kerasnya dunia setiap hari seorang diri.
Menghadapi jeritan rindu yang meronta ingin bertemu saat kau tak disini.

Ku coba untuk terus setia dalam menunggu kau pulang.
Disini aku dalam kesendirian membunuh waktu agar cepat berlalu.
Disini aku sendiri bergelut dengan hati yang bergemuruh membara meminta kau untuk segera datang.
Sepiku telah menjadi teman untuk selalu setia menunggu kepulanganmu.

Saat kau tak disini, ku sibukan diri ini.
Berusaha acuh akan apa yang telah ku lalui.
Jenuh? Sudah pasti.
Ingin menangis? Oh betapa sering ku menahan tangisan ini.

Kepulanganmu sangat kurindukan.
Walau begitu, aku harus tetap setia mendampingimu sampai kapanpun dan tak tergantinkan.
Berapa lama pun kau bertugas.
Aku selalu bergegas menunggumu diteras.

Saat kau tak disini,
Percayalah bahwa aku selalu setia disini
Walau jujur pahit untuk selalu bertahan melawan sepi
Karna kau adalah prajurit yang bukan hanya milik aku sendiri

Wahai sayang,
Tetaplah setia pada Ibu pertiwi dan jangan kau khianati
Karna sama saja itu mengkhianati orang-orang yang kau sayang
Percayalah wahai kekasih, bahwa aku selalu mendo'akanmu saat kau tak disini.


-PerempuanPenggemarRindu-

Kamu

Sejenak ku termenung dalam belenggu yang kelabu.
Hujan mulai turun pertanda ada kerinduan yang tak kunjung bertemu.
Teringat tentangmu dalam balutan jaket yang terkena derasnya hujan.
Teringat tentangmu yang selalu hadir dalam keheningan malam.

Kamu.
Seseorang yang memiliki senyum yang indah.
Seseorang yang dulu amat kucintai terlalu dalam.
Seseorang yang mempunyai nada lembut saat berbicara.

Kamu.
Seseorang yang bisa membuat aku jatuh cinta setiap harinya.
Dengan dirimu yang selalu membawa warna dihidupku.
Lalu, mengapa sekarang kau jadikan warna kelabu?

Kamu tahu sayang?
Betapa aku terlalu rindu padamu walau entah bagaimana dengan kamu.
Kamu tahu sayang?
Betapa aku mencintaimu dan bagaimana dengan perasaanmu terhadapku itu urusanmu.

Kamu..
Aku rindu walau kau sudah tak bersamaku.
Kamu..
Bagaimanapun sekarang keadaanmu,ku harap kau baik-baik saja tanpa diriku.


-PerempuanPenggemarRindu-

Cukup

Dini hari tadi diatas mejaku hanya ada secarik kertas, sebuah pena dan secangkir kopi.
Dengan sangat hati-hati, aku tulis namamu dan mengejanya berulang kali.

Akan tetapi, saat hendak menuliskan tulisan sehabis namamu itu, tiba-tiba saja jemariku mendadak berhenti.
Aku hela udara segar sejenak dan menyeruput kopiku yang mulai dingin sembari berharap tenang lekas datang.

Lalu aku berbisik pada pikiran dan sanubari, "Lain kali, jangan biarkan dirinya beranjak keluar dan tertulis lagi. Sebab, jemariku tidak akan sanggup dan tintaku tidak akan pernah cukup".


-PerempuanPenggemarRindu-

Kamis, 29 Maret 2018

Menunggu

Aku tahu.
Tak ada yang lebih lelah, kecuali menunggu.
Tak ada yang lebih membosankan, selain termangu.

Jika menunggu itu hal yang membosankan, apa berpindah hati itu hal yang menyenangkan?
Di kesendirian malam ku menanti engkau dalam kesunyian.
Di kegelapan tanpa rembulan, tak terangi hati yang sepi.

Bayangmu datang menghampiri dari ribuan ilusi.
Awan kelabu hitam menyelimuti hati.
Ku duduk sendiri menghadapi hari-hari yang sepi tiada henti.
Lalu, jika menunggu dalam ragu adalah hal yang membosankan, apakah pergi tanpa berpamitan adalah hal yang wajar?



-PerempuanPenggemarRindu-

Pura-puralah.

Pura-puralah.
Pura-pura bahwa kau tidak terluka karena perilakunya yang menduakanmu.
Pura-pura bahwa kau tidak sakit karena kata-katanya yang merobek degup jantungmu.

Pura-puralah.
Pura-pura bahwa kau tidak rindu mereka yang telah pergi dari hidupmu.
Pura-pura bahwa kau tidak ingin dipeluk ibumu saat ini.

Pura-puralah.
Pura-pura bahwa kau adalah orang yang kuat menghadapi keheningan dan hanya kosong yang berbicara.
Pura-pura bahwa kau tidak apa-apa dan baik-baik saja.

Pura-puralah.
Pura-pura hingga kau lupa dirimu sedang berpura-pura.

.remukredam.


-PerempuanPenggemarRindu-

Minggu, 25 Maret 2018

Kamu Ingin Tahu?

Kamu ingin tahu?
Sekarang aku sudah berusaha biasa saja.
Aku sudah berusaha berdiri sendiri tanpa menanti.
Aku disini tidak ingin perduli lagi.

Aku tahu kamu masih berada di dekap, mampu memberi tatapan walau ragu.
Kamu tersenyum, sesekali melontarkan guyonan yang membuatku ingin tertawa.
Akhirnya, aku memilih bungkam. Karena mungkin lebih baik.

Aku tahu bahwa kamu masih ada dalam harapan kosongku.
Berjalan melewati pikiran saat aku sendirian.
Melihatku termenung menunggu dipelataran.
Kehadiranmu masih kutunggu hingga saat ini.
Tapi aku memilih untuk pergi.

Kenapa?
Karena aku mengerti, hatimu telah ditempati.
Aku tahu kamu masih saja berlagak tidak perduli, padahal tidak sama sekali.
Pura-pura menanyakan kabarku.

Diwaktu itu, pagi hari.
Ku melihat storymu, bahwa aku bukanlah pilihanmu.
Aku mengerti, aku tidak akan menyalahkan dirimu.
Karena hidup itu pilihan.
Dan kamu bebas memilih siapa saja seseorang yang pantas hidup bersamamu.

Aku tahu sekarang, kamu sendiri telah menjawab semua pertanyaanku secara tidak langsung.
Aku mengerti sekarang, kamu pergi bersama dia kembali dan melupakan aku kesekian kali.

Aku mengerti.


-PerempuanPenggemarRindu-

Sabtu, 24 Maret 2018

Impian Menjadi Ibu Persit.

Kau tahu, sejak kecil aku selalu punya impian agar bisa menjadi ibu persit?
Mengapa?
Dulu, ayahku adalah seorang Abdi Negara. Aku sangat bangga padanya.
Mamahku dulu seorang persit. Aku sangat mengaguminya.

Terlahir dari pasangan suami istri yang luar biasa.
Mendidik ku hingga sebesar ini dengan disiplin.
Semua aku syukuri dan sangat kunikmati.
Andai waktu bisa kuputar ulang, ingin rasanya ku kembali.

Tidak mudah untuk menjadi Tentara.
Tidak mudah juga untuk menjadi bagian ibu Persit.
Anaknya pun harus sanggup mengikuti kemana Ayah pergi.
Selalu siap sedia saat tugas negara memanggil dan harus pindah-pindah tempat tinggal.
Selalu dituntut untuk mudah beradaptasi dengan sekitar.

Menjadi bagian dari keluarga abdi negara adalah hadiah terindah.
Meski waktu tak dapat ku putar kembali.
Setidaknya aku masih memiliki memori saat itu.
Masih dapat kuputar ulang kapanpun aku mau.

Setelah Ayah pensiun, dan pindah ke Jakarta semua berlalu.
Semua kembali seperti diawal, ayah membuka usaha baru.
Biar bagaimanapun kau tetap tentaraku ayah.
Biar bagaimanapun kau tetap ibu persit ku mamah.
Sudah pensiunpun masih gagah.

Sejak saat itu, aku memiliki impian agar aku bisa menjadi ibu persit.
Kenapa? Karna inginku mengabdikan diri pada Negara bersama pasangan hidup tercinta.
Aku bukan cinta seragamnya yang dengan gagah dilihatnya.
Aku mencintai seluruhnya untuk di dunia dan akhirat.

Teruntuk kamu Tentaraku nanti, siapapun itu.
Aku menunggumu disini dan siap mendampingimu dalam senang dan susahmu, dalam bahagia dan dukamu, dalam segala kondisi apapun nanti.
Teruntuk kamu Tentaraku nanti, siapapun kamu.
Aku siap menjadi ibu Persitmu.


-PerempuanPenggemarRindu-

Selasa, 20 Maret 2018

Kepergianmu Selamanya

Pagi itu dihari Jum'at.
Terdengar kabar bahwa kau semakin melemah.
Setelah operasi semua berjalan lancar, hanya selang beberapa hari kau mulai melemah drastis.
Tanda-tanda akan kepergianmu mulai muncul.

Nek..
Tidakkah kau ingat? Betapa hebatnya dirimu membesarkan sepuluh anak-anakmu yang telah sukses.
Betapa mulianya  dirimu nek..
Walau dirimu galak, tidak menempuh pendidikan hanya untuk mencari sesuap nasi.

Nek..
Perjuanganmu tiada henti.
Hingga kau jatuh sakitpun, kau masih bertekad untuk sembuh.
Berobat kesana kemari kau lakoni.
Hingga waktu memberimu celah untuk berdiam diri.
Terbaring lemah dikasur sendiri.

Nek..
Kini sakitmu telah hilang, yang dideritamu sudah tidak menyakitimu lagi.
Segala penyakit yang bersarang ditubuhmu kini sudah tidak ada lagi.
Perjuanganmu telah usai..

Nek..
Apa nenek tahu? Disini banyak sekali yang menangisi kepergianmu.
Tetapi, jika kau bertahanpun itu sulit.
Belajar ikhlas untuk semuanya.
Kau tahu? Aku menangisimu nek, maafkan aku dan semuanya.

Nek..
Kini kau sudah tenang di Syurga sana.
Kau pergi dihari yang baik, hari Jum'at.
Jum'at kliwon dimana itu adalah malam yang sangat wingit.
Besok adalah hari ketujuh kau pergi meninggalkan kita, tetapi besok juga terakhir para juru kunci menunggu tempat peristirahatanmu.

Nek..
Yakinlah, disini selalu banyak yang mendo'akanmu.
Di pemakaman saat itu, kita semua berdo'a dan membaca yasin.
Tenanglah dirumah barumu nek..
Kita semua menyayangimu.
Dan rela melepas kepergianmu selamanya.

-PerempuanPenggemarRindu-

Minggu, 11 Maret 2018

Patah Hati Terhebatku.

Kamu tahu wahai langit?
Patah hati terhebatku adalah saat ia menjanjikan ku kata "setia", namun nyatanya ia berkelit.
Ia hanya pandai merangkai kata dalam berjanji.
Ia tidak bisa memberi bukti.

Kau tahu wahai bumi?
Apa yang tadinya ku pertahankan semua runtuh tak terelakkan.
Hanya karna ia berpaling dan tergoda dengan yang lain.
Aku kalah dengan pilihan dia yang lain.

Kau tahu hujan?
Mengapa aku sangat mencintainya?
Bagiku ia adalah seseorang yang berbeda dari yang lain.
Nyatanya semua sama saja tak ada bedanya.

Mengapa aku menilainya sama?
Karna cara dia mematahkan hati ini sama persis seperti yang lainnya.
Bukan karna aku petualang cinta.
Aku tidak mudah untuk jatuh cinta. 
Karena aku ingin membuktikan bahwa setia itu ada.

Kau tahu sayang, mengapa aku menyebutmu patah hati terhebatku?
Karna saat kau mengungkapkan untuk serius nyatanya kau berpaling dengan misterius.
kau tidak jujur denganku, lalu kau pergi begitu saja dariku dan menghadirkan dia ditengah-tengah kita.
Padahal aku selalu memberitahu padamu, bahwa kejujuran adalah hal yang terpenting.

Sepahit apa faktanya, tidak mengapa asal jujur.
Nyatanya? Kau dengan santainya berkata "aku khilaf, aku mengaku salah".
Tapi, kau ulangi lagi untuk kedua kali.
Mengertilah sayang! Itu bukan pengakuan!
Itu sebuah unsur kesengajaan yang menjadikannya kebiasaan!

Kau tahu sayang, setia itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Setia itu mahal dan tidak bisa dilakukan oleh orang murahan.
Apalagi oleh orang yang pandai menggoda dan tergoda oleh si penggoda.

Persetan dengan omongan dan janji-janjimu itu!
Kau ingin kembali denganku hanya dengan memberikan kata-kata "Jatuh cinta terhadapmu adalah hal yang terindah bagiku".
Hahaha! Cukup! Aku tidak akan terbuai lagi oleh omong kosongmu itu.
Kau telan saja mentah-mentah omonganmu itu. Aku sudah muak.

Hari ini kau berkata seperti itu.
Dua hari kemudian kamu menghilang dan pergi bersama yang lain.
Kamu sehat? Kamu waras?
Hallo patah hati terhebatku, semoga dirimu sehat selalu.
Hallo patah hati terhebatku, semoga kamu tak lupa akan karmamu.

-PerempuanPenggemarRindu-.

Cinta Pertama

Kau masih ingat kisah cinta pertamamu?
Aku masih. Bahkan sampai kini, bahkan setelah lima tahun semenjak terakhir kali kami bersama.
Bertemu di satu sekolah yang tidak disangka akan satu kelas.

Apakah kamu ingat?
Pertama kali kau ingin mendekati ku dengan cara memakan bekal nasi goreng ku di jam olahraga.
Sejak saat itu, aku sangat kesal terhadap dirimu.
Namun, kamu tidak ada menyerahnya untuk mendekatiku yang dibantu oleh teman-temanmu itu.

Semakin hari, aku semakin dibuat gila karna ulahmu yang tiada henti.
Waktu itu hari jum'at, dimana kamu membawa bunga palsu yang didapat dari membeli permen.
Kamu di gotong oleh teman-temanmu hanya untuk memberi bunga itu.
Akan tetapi, aku tidak suka sama sekali dan aku menangis tak mau menerima itu.
Karna apa? Aku membencimu.

Ya, aku membencimu karena telah membuat hari-hariku menjadi malapetaka.
Bagaikan melodi yang membuat alunan disetiap suara.
Semakin hari, semakin dijalani.
Aku mulai terbiasa akan hadirmu dihidupku.

Setiap hari, saat ingin pergi ke sekolah, entah dirimu atau diriku selalu menjemput kerumah naik sepeda hanya untuk pergi bersama.
Saat kamu sakit, aku memboncengmu menggunakan sepedaku.
Saat aku yang sakit, kamu memboncengku dengan sepedamu.

Apa kau ingat sayang?
Ketika siang hari dimana kita sedang bermain bersama, kita memanjat pohon mangga depan rumah dan aku tak bisa turun?
Hahaha rasanya aku ingin memaki diriku sendiri.
Ingatkah kau sayang?
Ketika kita pergi mengaji bersama.

Dimana saat sore itu, kita saling mengakui perasaan masing-masing.
Menggunakan surat dan sebuah lagu Samsons "Kenangan Terindah".
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Warna hidupku berubah menjadi seperti pelangi.

Hingga saat yang tidak diinginkan terjadi.
Aku dan kamu harus berpisah alias LDR selama tiga tahun lamanya.
Saat itu kita tidak punya handphone, zaman belum secanggih saat ini.
Hanya melalui surat yang kadang sampai dengan tujuan yang tepat.
Kita tak pernah berkabar, tak pernah tahu keadaan masing-masing.

Hari-hari ku lalui dengan sendiri lagi.
Bersepeda sendiri lagi,sampai menunggu kau datang kembali.
Tiga tahun berlalu, dan aku kembali lagi bertemu denganmu di Bandung.
Saat itu, aku sedang bermain ditaman, dan kau lewat menggunakan sepeda.
Aku berteriak dan berlari agar tak ketahuan dirimu.

Sayang sekali, keberuntungan tak berpihak kepadaku.
Kau tahu itu aku, dan berlari mengejarku sambil berteriak "Tunggu!".
Padahal saat itu aku telah kembali membencimu, karna kau yang seenak hati meninggalkanku.
Setelah kau dapat mencegatku, tanpa ada ampun kau memelukku dan bilang rindu.

Persetan dengan rindu!
Setelah tahu apa yang kau lakukan saat jauh dariku.
Lemahnya aku adalah menangis dipelukmu.
Seakan ingin ku putar kembali waktu.

Tak lama, kau kembali pindah ke tempat kita dulu sering bersama.
Aku bertemu kau kembali, dan kau memberi kabar bahwa kita satu sekolah lagi dan satu kelas lagi.
Tidakkah kau egois sayang?
Aku berusaha mati-matian untuk melupakanmu dan dengan seenak jidat kau datang lagi dalam hidupku.

Oh tidak! kataku dalam hati. Jangan biarkan ia masuk dalam hidupku lagi.
Waktu semakin berlalu dan aku semakin takut untuk menghadapi kenyataan bahwa kau ada dihadapanku lagi sekarang.
Setelah kita lulus, aku menghilang bagai ditelan bumi.
Aku pergi ke jakarta dan tidak pernah ingin mencari tahu tentangmu.

Tetapi takdir berkata lain.
Setelah masuk kuliah, aku menemukan sosial mediamu.
Dan kau pun melihat sosial mediaku.
Dan, hal yang aku takutkan pun terjadi. Kau menghubungi aku lagi!
Oh tidak! malapetaka apalagi yang akan terjadi.

Tapi, aku berusaha untuk baik-baik saja.
Aku berusaha menghindar perlahan, tapi tak bisa.
Kamu selalu ada cara untuk menghubungi aku lagi.
Hingga akhirnya, aku berusaha terbiasa dan berteman baik kembali dengan kisah kita yang telah terkubur lama.

Oh Cinta Pertama.
Terimakasih atas kisah yang kau beri selama lima tahun lamanya.
Dan kini kau hadir lagi dengan tema yang berbeda.
Dan kau selalu saja mengajak bernostalgia.
Padahal aku dan kamu sudah bukan siapa-siapa.
Hanya teman biasa yang kamu bilang tidak akan pernah lupakan kisahnya.


-PerempuanPenggemarRindu-

Sabtu, 10 Maret 2018

Waktu

Waktu tidak pernah berjalan mundur.
Waktu tidak akan pernah kembali sama.
Waktu menjadikan lembaran kisah akan segera usang atau memudar.
Waktu menjadikannya ia sebuah kenangan yang menjadi cerita.

Waktu, yang terkadang terasa seperti berlari atau berputar begitu lambat.
Namun, yang pasti ia tak akan pernah berhenti.
Meninggalkan kita  yang masih bergerak lambat.
Seperti malam yang meninggalkan pagi.

Waktu, bila hati ini telah membeku.
Tolong dentangkan aku agar tak terbelenggu.
Terbelenggu dalam diam yang sia-sia.
Terbelenggu dalam kisah yang tak ada artinya.

Aku tahu, waktu bisa merubah apapun termasuk perasaan.
Sampai kapan aku harus terus menunggu waktu berpihak kepadaku?
Banyak hal yang dirahasiakan oleh waktu.
Dan ku berharap salah satunya adalah kedatanganmu.


-PerempuanPenggemarRindu-

Belum puas akan tangisku.

Semalam tadi, aku menangis.
Menangis menjerit dalam kesendirian. 
Belum cukup rasanya ku menumpahkan segala rasa yang ku rasakan.
Air mata ku sampai tak sanggup lagi untuk menetes.

Kau tau sayang?
Pengkhianatanmu sungguh menyakitkan.
Hatiku remuk redam. 
Pagi ini ku kembali menangis.
Namun aku tersadar, kamu terlalu bangsat untuk ku jadikan prioritas!

Seraya waktu terus berputar.
Setiap kali aku melihat fotomu muncul, hati ini seperti kembali tersayat.
Mata ini kembali memangis. 
Belum puas rasanya kau buat aku tersiksa akan tangisan.

Aku tidak marah akan perbuatanmu padaku.
Hanya saja aku terlalu kecewa denganmu.
Kenapa harus kamu?
Kenapa harus aku?

-PerempuanPenggemarRindu-

Jumat, 09 Maret 2018

Bukan Aku tapi Dia.

Ternyata bukan aku.
Bukan aku yang kamu pilih.
Hatimu selalu kembali pulang kepada dirinya.
Siapalah aku yang hanya jadi figuran pelipur lara.

Siapalah aku yang hanya jadi payung saat hujanmu datang dan pelangimu kembali lagi.
Siapalah aku yang hanya kau anggap tiang sebagai sandaran sementara.
Aku sadar,diriku hanya sebagai figuran disaat pemeran utama sedang tidak ada.

Kau tahu apa yang ku benci darimu?
Omong kosong sampahmu yang telah ku percaya!
Hati ini sangat mengutuk akan kebodohanku yang terlalu percaya.
Kau datang tanpa merasa dosa, dan pergi meninggalkan luka!
Kau tahu? Berapa kali kau hadir dan pergi seenak jidatmu itu hah?!

Kau pikir kau ini siapa?
Seenak jidat memainkan perasaan!
Sesuka hati datang dan pergi.
Kau pikir aku ini terminal?

Tidakkah kau berfikir wahai sayang?
Perlakuanmu terhadapku yang menimbulkan seberkas harapan!
Tetapi dengan mudahnya kau hancurkan saat kau bosan!
Pergi menghilang dan kembali bersama dia yang kau agungkan!
Datang kepadaku saat kau merasa bosan!

Kau pikir aku tempat bermain hah?
Tidakkah kau punya pikiran sayang?
Sebuah pengkhianatan lebih sakit dan pilu daripada kehilangan.
Kekecewaan yang mendalam, membuatku menangis dalam kesunyian.

Inginku berteriak kepadamu!
MANA YANG KATANYA SUDAH PUTUS DAN MEYAKINKAN KU NAMUN NYATANYA HANYA OMONG KOSONG?
Ah!! Nyatanya kau tetap saja memilih dia dan bukan aku.

Kemana perkataanmu yang ingin membuktikan kepadaku bahwa kamu tidak main-main sayang?
Ah!! Nyatanya hanya wacana belaka sebagai pemanis saja.
Dasar kau pembual! Pengobral janji.
Bisa-bisanya kau patahkan hati ini yang ingin ku buka kembali.

Ternyata, pilihanmu bukan aku tetapi dia.
Selamat sayang, semoga dia tak tahu perlakuanmu terhadapku.
Supaya ia tetap mencintaimu dan tak merasakan sakit sepertiku.

-PerempuanPenggemarRindu-

Rindu

Rinduku buta.
Tak melihat raga, yang selalu sesak karenanya.
Rinduku tuli.
Tak mendengar hati, yang selalu meminta tuk berhenti.
Rinduku bisu.
Tak mampu berucap, namun selalu memberi isyarat tuk dimengerti.

Kau tahu rindu? Apa yang aku benci darimu?
Kau itu manja. Terus saja meminta waktu, tuk menghapus jarak yang tak tentu.
Rindu, kau tak tau diri.
Sudah ku usir berkali-kali,
Tetap saja ia kembali.

Dengan rindu yang tak kenal masa,
Aku bisa apa?
Tangisan pun tak bisa jadi penawarnya.
Teriak pun tak bisa didengar olehnya.

Lalu, jika aku menolak rindu.
Hati ini berteriak dan ragaku pun bergejolak.
Rindu, apa kamu tahu?
Menahanmu untuk tidak selalu hadir itu teramat pilu.

Rindu, tolong beri aku waktu sejenak.
Agar aku menikmatimu bersama rintik hujan dan senja sore ini.
Rindu, tolong beri aku waktu sejenak.
Agar aku dapat memendam rasa ini  didalam hati lagi.

-PerempuanPenggemarRindu-

Senja

Kala senja mulai menyapa di sepertiga menjelang malam.
Begitu mudah ia datang dengan indahnya dan begitu mudahnya ia tenggelam.
Senja selalu seperti itu, ia datang tak diundang pulang pun tak diantar.
Senja selalu seperti itu, ia hadir menawarkan keindahan lalu pergi seenaknya meninggalkan serpihan.

Rindu dikala senja.
Ada yang tak tenggelam ketika senja datang, rasa.
Ketika ada rindu yang tak tersampaikan pada dirinya.
Senja selalu menawarkan untuk menitipkan rindu ini padanya.
Betapa peliknya rindu ini agar tersampaikan disaat senja.
Betapa kesetiaannya diuji untuk menunggu senja yang tak selalu ada.

Senja selalu seperti itu,
Ia datang dengan waktu yang sebentar.
Senja juga memberikan pengertian bahwa waktu adalah salah satu dari sekian hal yang tak bisa didaur ulang.
Senja selalu memberikan warna yang berbeda dari tiap waktu ia hadir.

Dan ..
Sesaat jingga menghilang dalam senja,
Ruam-ruam rindu menyembul melantunkan nada memekikan telinga.
Senyap menduga,
Mulut tak mampu bicara jika ia merindukan senja.

Dan..
Jika kau sudah melihat warna senja sore itu,
Kau pasti sudah tahu bukan, apa warna rinduku?

-PerempuanPenggemarRindu-

Kita ini apa?

Kita ini apa?
Saling memiliki rasa tapi tak berterus terang.
Saling menahan rindu tapi bukan siapa-siapa.
Kita berteman tapi rasanya saling memiliki.
Nyatanya? Kita tidak saling memiliki satu sama lain.

Jadi, kita ini apa?
Insan yang saling munafik akan perasaankah?
Atau memang hanya insan yang takut kehilangan setelah saling memiliki?
Insan yang takut akan perpisahan?

Kita ini apa?
Saling menyimpan rasa tapi menyatakan pun tidak.
Apakah kita ini hanya sebatas penghilang penat?
Ataukah bumbu dalam keseharian agar tak bosan?
Atau juga hanya sebagai pewarna selingan yang masih samar warnanya?
Jadi, kita ini apa?

-PerempuanPenggemarRindu-

Sebuah Pengkhianatan.

Aku pernah mengerti tentang dirimu.
Aku pernah sangat tahu sebelum kamu menjadi seseorang yang asing bagiku.
Entah mengapa perhatianmu tak lagi seperti perhatian yang kuberikan.
Sikapmu tak lagi sehangat dahulu.
Tatapanmu tak lagi setajam dahulu.
Seperti terbagi.

Apakah ada kesalahan diantara aku dan kamu?
Kamu mungkin tak akan pernah ingin sibuk memikirkanku.
Salahkah aku jika menangis karenamu?
Aku selalu kehilangan sosokmu, dan kamu selalu pergi mempermainkan perasaan yang kau sebut-sebut sebagai cinta.

Apakah benar ini cinta?
Jika kamu merasa kita saling memaksa, sebenarnya dulu kita tak pernah berfikir seperti itu sebelum akhirnya kau dengan berani menyelipkan dia di sela-sela kita berdua dengan rasa tak berdosa.

Janjimu sangatlah banyak. Hingga tak sempat kamu tepati, bahkan kau lupakan begitu saja. Kamu sering kali menyakiti, tapi berkali-kali juga kumaafkan.
Aku hanya terdiam melihat kenyataan yang terus menamparku hingga tak sadarkan diri.
Bukan hanya itu, kamu bahkan menghempaskanku dengan begitu halus.

Seberapa tak pentingnya aku?
Sampai-sampai kau tak merasakan apa yang selama ini kulakukan dan kuperjuangkan.
Dimana letak hatimu saat itu? Apakah kau tak berperasaan?
Apa aku tak begitu pantas?

Tapi, tenang saja sayang, kau tak perlu memperhatikanku lagi.
Bukankah sekarang dirinyalah yang kau anggap telah berkorban banyak.
Sedangkan aku? Ya, aku sudah terbiasa tersakiti kok, apalagi sebabnya adalah kamu.

Aku bisa melakukan semuanya sendiri, walaupun aku berbohong dengan hatiku sendiri.
Biarlah aku berteman dengan sepi dan mengobati lukaku.
Semoga saat kepulanganku nanti kau tak akan lagi menjadi seseorang yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya.


-PerempuanPenggemarRindu-

Kamis, 08 Maret 2018

Sekarang Aku Tahu.

Sekarang aku tahu.
Aku hanya menjadi bagian pelipur lara disaat kau sedang berduka. 
Aku hanya sebuah objek pelampiasan disaat dirimu tak sedang dengannya.

Aku hanya sebagai tempat berteduh disaat hujanmu telah berlalu dan pelangimu datang kembali.
Aku bukan tempat untuk kepulanganmu melainkan hanya untuk sekedar mengetuk pintu dan bersinggah sejenak karna dukamu. 

Perlakuanmu terhadapku, kau lakukan juga terhadap dia yang kau sebut sebagai mantanmu.
Ku pastikan dirimu untuk meyakinkan keraguanku.
Faktanya, kau menghilang lagi dan hadir kembali hanya untuk menambahkan luka dihati.
Kau goreskan lagi luka dihati ini.

Tidak mengapa sayang, aku sudah terbiasa. 
Terbiasa akan hadir dan pergimu.
Terbiasa akan kata manismu tanpa pembuktianmu.
Tidak mengapa sayang, aku sudah berteman baik dengan omong kosongmu.

Kau pernah berkata, prinsipmu "yakin tapi tak berharap".
Ah! Omong kosong. Sama saja dengan halnya kau hanya yakin tapi tak berusaha.
Taukah kamu?
Akibat perlakuanmu ada wanita yang rela menunggumu dalam diam?
Menunggumu dalam sakit! 

Ah! Itu hanya hal biasa untukmu.
Layaknya layangan yang sedang kau tarik ulur dan bermain bersamaku.
Mungkin salahku yang telah berharap.
Yang terlalu percaya akan kata-kata mu itu. 

Nyatanya? Kau masih saja menaruhkan keyakinan dan rasa berharap untukku.
Dan dirimu? Asik dengan permainanmu. 
Tenang saja sayang, aku sudah mati rasa.
Dan aku sudah terbiasa.

-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 07 Maret 2018

Menunggu dalam ragu

Aku tahu.
Tak ada yang lebih lelah, kecuali menunggu.
Tak ada yang lebih membosankan, selain termangu.
Di kesendirian malam ku menanti mu dalam kesunyian.
Di kegelapan malam tanpa rembulan tuk terangi hati dan jiwa yang sepi.

Bayangmu datang menghampiri dari ribuan ilusi.
Namamu terlintas dalam kesunyian malam ini.
Awan kelabu hitam menyelimuti hati.
Ku duduk sendiri menghadapi sunyi.

Malam ini ku sendiri menatap langit.
Inginku menjerit.
Tolong, lihat aku disini wahai tuan.
Menunggumu dalam keraguan.

-PerempuanPenggemarRindu-

Hujan, Kenangan, dan Sekarang.

Kadang, hujan selalu membawa kenangan air mata.
Ingatan yang selalu dipaksa untuk bernostalgia kembali. Tapi, itu semua hanya untuk dilewati.
Layaknya album yang hanya disimpan untuk dikenang.
Ya, sama seperti hujan. Hujan datang berkali-kali pun, membawa sejuta kenangan atau tangisan pun, Ia selalu berhenti pada saat ia sudah puas menangisi alam.

Ia datang tak diundang,dengan segala rasa yang ada ia tumpahkan.
Hujan membawa kenangan pada masing-masing  orang.
Entah itu kenangan manis bahkan pahit sekalipun.
Ibarat badai yang datang dengan ributnya, pasti akan berhenti juga saat kelelahan.

Walau semua terasa porak poranda hanya karena hujan yang menyajikan kenangan.
Apapun itu, kau hanya perlu tahu.
Hatimu dan dirimu jauh lebih kuat.
Perasaan dan logikamu dapat kau ajak bekerjasama dengan baik.

Semua hanya tentang perihal sikap dan perilaku.
Entah seperti apa dirimu dibuat terus mengingat kenangan saat hujan kembali turun.
Kau akan selalu kembali pada dunia nyatamu.
Karna, kau sudah tak hidup didalam sana yang telah lalu.
Kau hanya telah hidup dimasa sekarang yang pada kenyataannya telah membiarkan kenangan itu ada dibelakangmu.


-PerempuanPenggemarRindu-

Hidup

Hidup kadang memberikan kejutan-kejutan disaat yang tidak pernah kita duga.
Mungkin hidup akan memberikan kita kesedihan luar biasa, ketakutan luar biasa, atau kehilangan luar biasa.
Pada saat itu, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima, belajar menerima kenyataan dan mengakui kekalahan-kekalahan kita.

Hidup kadang memberikan kejutan-kejutan yang membuat kita tidak tahu akan  menjadi seperti apa dihidup ini nantinya.
Kita mencoba menghindar dari kejutan yang tidak kita inginkan, namun gagal.
Lalu, kita sadar bahwa tidak ada cara untuk menghindarinya. Kita hanya perlu "menghadapinya" dan sesekali terluka, terjatuh, dan sakit.

Tapi, hidup juga kadang mengagetkan kita dengan hal yang tak terduga.
Kesakitan, ketakutan, kesedihan dan kehilangan. Namun, hidup juga akan memberikan kita "Kebahagiaan" diujung sana saat kita berhasil "Melewatinya".

Hidup juga memang tak semudah membalikan telapak tangan. Karena impian dan harapan kadang tak seindah kenyataan yang ada.
Seperti merubah sifat seseorang, tak selalu sesuai dengan yang kita inginkan.

Kita memberi yang baik pun belum tentu benar.
Karena "Prinsip" hidup juga berbeda-beda.
Hidup itu tak ada buku petunjuknya. Tapi, bagaimana cara kita menyikapinya, menerimanya.
Tak perlu terlalu keras dalam mengejar target.
Karena hidup itu realita saat ini.


-PerempuanPenggemarRindu-

Bukankah?

Bukankah melupakan adalah cara terbaik untuk menghapus luka kamu satu-satunya cinta yang pernah ku kenal?
Semuanya masih tampak sama, aku,kamu,dan cinta.
Karena kamu, aku bertahan dan tetap menunggu.
Aku seperti kemarau yang menanti hujan turun.
Aku berharap dalam pikiran yang sekejap ini untuk memilikimu sekali lagi.

Cinta? Kapan kau akan menghampiri hatinya untukku?
Aku tetap mencintaimu meski kini kau berpaling.
Luka itu membuatku takut untuk kembali percaya.
Mencintaimu itu mudah namun memilikimu begitu sulit.

Apakah hidup hanya untuk mengetahui rasa sakit?
Namun, jika cinta membuat kita terluka  dan membuatku kehilanganmu, aku memilih menyimpan cinta direlung hati yang paling jauh dan  terdalam.
Dan luka?
Biarkan ia pun tersimpan didalam hati.
Dengan  begitu kau akan tetap disisiku bukan?
Ah! Nyatanya kau tetap menjelma kehilangan dalam kisah kita.
Entah bagaimana, aku rindu.

-PerempuanPenggemarRindu-

Harapan

Hei kamu!
Kamu yang selalu menjelma di ruang hati. Menerobos, mendesak lalu memaksa masuk. Aku tak pernah membencimu. Aku juga tak melarangmu singgah, atau mengusirmu pergi jauh.
Aku selalu berusaha percaya padamu dan membiarkan aku untuk ikut melangkah bersamamu.
Ku beri nama HARAPAN!.
Ya, kamulah harapan. Bukankah kamu datang untuk menghapus luka?
Menghilangkan ragu? dan menunjukkan seberkas sinar?

Lalu, kemana kamu sekarang? Ternyata, kamu tak lebih dari seorang penipu!.
Ya, harapan adalah seorang penipu dan pencuri kebahagiaan.
Kamu datang dengan senyum dan seikat bunga, menaburkan benih dihatiku, lalu kembali dengan duka.
Bukankah kamu adalah seorang pendusta? Seseorang yang picik dan tak bertanggung jawab?

Hey kamu!
Yang ku sebut sebagai harapan! Kamu hanya impian kosong. Indah, tetapi sakit. Jangan pernah kau datang lagi diruang hati ini!

-PerempuanPenggemarRindu-

Nanti

Nanti akan ada waktu dimana kita berdua saling bertemu kembali.
Bercerita tentang bagaimana hangatnya pelukan diantara meja-meja cafe.
Ditengah lampu temaram disaksikan oleh kepulan asap kopi yang kita pesan.
Sambil menghindari rintik hujan di luar yang mengetuk jendela untuk menghantarkan rasa menggigil.

Nanti ada waktu dimana kita mengingat jalanan saat kita lewati bersama dengan jaket kulit tebal dan perbincangan tentang apapun di alam semesta ini.
Nanti, kita bercerita bukan sebagai dua pasang yang berjodoh dan ditakdirkan semesta.
Kita bercerita sebagai dua orang yang dulu pernah menjalin hubungan tetapi gagal ditengah jalan, sambil kita terus melangkah kedepan.
Kita, dua orang yang pernah suka dan saling melempar luka.


-PerempuanPenggemarRindu-

Hujan

Sore ini hujan turun lagi. Tak peduli seberapa sering hujan turun tanpa diundang,ia selalu saja menawarkan kembali ingatan tentang kenangan yang telah terlewat. Kau tahu hujan? Betapa diri ini merasa sendu saat kau datang. Menawarkan air deras yang selalu menetes beriringan dengan air mata. Kau memang membuat sendu, akan tetapi membuatku merasa candu. Saat orang lain menyingkir dan mencari teduhan karna derasmu, aku tetap melaju dan diam terpaku dalam tetesan air mata yang diiringi aliran derasmu.

Wahai hujan, tolong sampaikan padanya bahwa aku rindu. Rindu yang teramat sangat. Hingga diri ini tak mampu lagi untuk membendungnya. Wahai hujan, tolong beri tahu ia bahwa aku mencintainya dalam diam. Dalam kesunyian malam yang diiringi jangkrik berbunyi,ku teguhkan hati dan pikiran ini agar ia mengerti bahwa diri ini menunggunya. Dibawah derasnya air hujan yang kau turunkan, terdapat tangisan yang teramat ingin didengar.

Hujan,tolong bawakan derasnya air hujan ini untuknya juga. Agar ia merasakan juga betapa aku sangat mengingatnya. Menunggunya datang kembali. Hujan, darimu aku belajar bahasa air. Bagaimana berkali-kali jatuh tanpa sedikitpun mengeluh pada takdir.


-PerempuanPenggemarRindu-

Selasa, 06 Maret 2018

Menunggu dan Merindu

Kamu tak perlu tahu seberapa besar ku tahan rindu ini untukmu.
Seberapa banyak tangisan malam yang ku teteskan hanya untuk merindumu dalam lamunanku.
Biar disini ku bertahan sendiri dalam menunggumu.
Yang perlu kau tahu, aku disini berusaha baik-baik saja.
Lalu, bagaimanakah kabar dirimu? Salahkah aku merindumu?
Disini aku menunggu dan merindu.

-PerempuanPenggemarRindu-