Terimakasih, karena telah menorehkan luka dihati ini kembali
Silahkan pergi. Pergi sejauh mungkin dan tak usah kembali.
Tapi, jangan lupa untuk menengok sesekali.
Dan, jangan menyesali apa yang telah kau tinggali.
Aku tetap disini, atas hal apapun yang telah terjadi.
Aku tetap disini, berdiri sendiri tapi tidak untuk menunggumu kembali.
Aku hanya berdiam ditempat sambil melihat seberapa jauh kau kuat untuk berlari.
Hingga kau lelah nanti, dan berpikir untuk berhenti menepi, aku masih tetap disini menertawakanmu sendiri.
Kita hanya dipertemukan sesaat, bukan untuk menetap.
Pergilah, kita sama-sama lelah oleh harap.
Kita sudah sama-sama lelah dirundung kekecewaan.
Dan kau hanya menjadikanku ketidakpastian yang kau abadikan.
Terimakasih, karna telah banyak memberi warna pelangi
Aku tak menyesal pernah jatuh hati
Namun, aku tak ingin mengulangnya bersamamu lagi
Aku takkan mengharapkan apapun, pada siapapun lagi.
Sudah cukup ku merasakan segala pedih dihati.
Tak ingin lagi ku merasakan sakitnya ditinggal pergi
Sudah cukup atas segala luka yang kau beri
Sudah cukup aku merasakan patah hati
Aku lelah untuk menata ulang kembali perasaan yang telah mati.
-PerempuanPenggemarRinndu-
Selasa, 10 Desember 2019
Bimbang
Jika memang bukan aku yang kau pilih untuk pulang dan bertukar cerita tentang hari-harimu lagi,
Tolong lepaskanlah secara baik-baik.
Aku tak ingin memaksakan kalau memang bukan takdirnya.
Aku tak akan mempertahankanmu lagi dengan sebegitunya.
Entah terlepas dari siapa yang merasa kurang atau lebih,
Aku hanya tak ingin jika satu pihak saja yang masih terus mempertahankan
Sedangkan kau malah asik ingin diperjuangkan.
Setia tidak sebercanda itu, sayang.
Perihal kau bosan?
Tolong, katakan saja dengan gamblang.
Kau ingin sebuah perpisahan tanpa adanya pamitan?
Oh, sungguh itu sangat memalukan.
Kau datang dengan mengetuk pintu hati, tuan.
Lalu kau tiba-tiba pergi tanpa berpamitan?
Oh tuan, ini bukan PBB yang dengan mudahnya putar haluan
Ini hati yang memiliki segenap perasaan.
Jika ingin meninggalkan, pintu keluar ada disebelah sana
Cukup katakan saja, tak perlu menyembunyikan semuanya.
Perihal kau terlampau penat, melepaskan pun tak akan jadi masalah
Kau hanya butuh berterus terang
Berupaya sedikit gamblang akan lebih baik adanya
Perihal aku yang terluka, biar ku benahi nanti saja, tuan.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tolong lepaskanlah secara baik-baik.
Aku tak ingin memaksakan kalau memang bukan takdirnya.
Aku tak akan mempertahankanmu lagi dengan sebegitunya.
Entah terlepas dari siapa yang merasa kurang atau lebih,
Aku hanya tak ingin jika satu pihak saja yang masih terus mempertahankan
Sedangkan kau malah asik ingin diperjuangkan.
Setia tidak sebercanda itu, sayang.
Perihal kau bosan?
Tolong, katakan saja dengan gamblang.
Kau ingin sebuah perpisahan tanpa adanya pamitan?
Oh, sungguh itu sangat memalukan.
Kau datang dengan mengetuk pintu hati, tuan.
Lalu kau tiba-tiba pergi tanpa berpamitan?
Oh tuan, ini bukan PBB yang dengan mudahnya putar haluan
Ini hati yang memiliki segenap perasaan.
Jika ingin meninggalkan, pintu keluar ada disebelah sana
Cukup katakan saja, tak perlu menyembunyikan semuanya.
Perihal kau terlampau penat, melepaskan pun tak akan jadi masalah
Kau hanya butuh berterus terang
Berupaya sedikit gamblang akan lebih baik adanya
Perihal aku yang terluka, biar ku benahi nanti saja, tuan.
-PerempuanPenggemarRindu-
Seperti Hujan
Ada yang datang ketika hujan,
Yaitu aroma tanah yang terjamah
Mereka bilang aku ini aneh,
Karena selalu suka saat air turun dari langit.
Mereka juga menyebutku gila,
Karena suka bercanda dengan hujan
Bercerita saat rintiknya menyapa.
Kau benar tentang hujan,
Ia selalu menggugah rasa rindu antara kita.
Aku harap, kau takkan pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita
Saat bersama, memandang langit hitam dan derasnya hujan yang menyapa.
Perihal hujan, sama saja dengan seputaran tentang rindu.
Tergeletak tak berdaya dengan sendu
Menangis dengan tersedu-sedu
Karna lisan ingin mengucap temu
Hujan, rindu ini belum selesai, bisikku.
-PerempuanPenggemarRindu-
Yaitu aroma tanah yang terjamah
Mereka bilang aku ini aneh,
Karena selalu suka saat air turun dari langit.
Mereka juga menyebutku gila,
Karena suka bercanda dengan hujan
Bercerita saat rintiknya menyapa.
Kau benar tentang hujan,
Ia selalu menggugah rasa rindu antara kita.
Aku harap, kau takkan pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita
Saat bersama, memandang langit hitam dan derasnya hujan yang menyapa.
Perihal hujan, sama saja dengan seputaran tentang rindu.
Tergeletak tak berdaya dengan sendu
Menangis dengan tersedu-sedu
Karna lisan ingin mengucap temu
Hujan, rindu ini belum selesai, bisikku.
-PerempuanPenggemarRindu-
Langganan:
Komentar (Atom)