Jumat, 10 Mei 2024

Orang Gila Mana

Orang gila mana?

Orang gila mana yang mati-matian menyibukan diri agar lupa akan apa yang sedang terjadi.

Orang gila mana yang rela bangkit berulang kali lari kesana kesini tapi jatuh tersungkur lagi.

Orang gila mana yang sampai pindah kota demi menemukan keramaian hidup tapi nyatanya masih sepi sendiri.


Orang gila mana yang selalu jadi payung untuk orang lain tapi lupa berteduh untuk diri sendiri.

Orang gila mana yang terus belajar menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan.

Orang gila mana yang harus memaklumi hal sama berkali-kali

Orang gila mana? Orang gila mana? Aku yang gila!


Ternyata capek ya, capek jadi gila.

Tersesat di dalam isi kepala sendiri.

Mikirin semuanya sendiri kayak orang tolol.

Berusaha buat kelihatan waras didepan semua manusia yang sebenarnya juga udah engga ada energi sama sekali.


Hancur, berantakan.

Dunia seolah berhenti berputar.

Rasanya ingin terus memeluk diri sendiri lebih erat lagi.

Agar selalu bisa menjahit lukaku sendiri.


Karna tidak semua hancur itu terlihat.

Ada rapuh yang harus tetap terlihat rapih.

Aku harus bersikap seolah-olah itu tidak menyakitiku.

Hal mana lagi yang harus terus aku maklumi?

Omong kosong mana lagi yang harus aku percaya?


Orang gila ini ingin sembuh walaupun mati rasa.

Mari kita rayakan perayaan mati rasa.

Separah-parahnya luka aku harus tetap sembuh juga kan?

Orang gila ini hanya ingin sembuh, tetaplah hidup dan tumbuh walaupun tidak utuh untuk dirimu sendiri.



-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 31 Januari 2024

Ada yang bertengkar di kepala

Semalam, aku bertengkar hebat dengan isi kepalaku.

Ia marah besar saat ku katakan, "kamu seharusnya sadar diri!"

Ahh yaa, lagi-lagi perihal kesadaran.

Sadar akan pikiran-pikiran yang terlalu rumit di kepala.

Sadar bahwa pikiran-pikiran itu tidak semua nyata adanya.


Kepalaku terlalu berisik.

Kepalaku sedang bertengkar dengan pikiran-pikiranku sendiri.

Semalam, aku tak bertegur sapa dengan isi kepalaku.

Aku sudah muak memikirkan semuanya sendirian.

Aku sudah lelah mengobati lukanya sendirian.


Lelah bertengkar dengan isi kepala.

Harus berdamai sendiri, memaafkan berulang kali, sendirian.

Isi kepala ini terlalu ramai, untuk jiwa yang sepi.

Isi kepala orang depresi memang tidak bisa di prediksi.

Muak? Tentu saja wahai semesta!


Dari banyaknya cara untuk merayakan kesedihan

Kenapa harus lari-lari memenuhi pikiran

Ada tangis yang tak butuh tenang

Berjuang sendirian demi memenangkan pertengkaran mati-matian


Aku sudah berada di titik tangisku sudah tidak butuh tenang

Biarkan aku menghafal bagaimana rasa sakitnya

Menikmati masa-masa mati rasa

Menanti apa itu bahagia

Dan tidak lagi bertengkar dengan isi kepala


-PerempuanPenggemarRindu-