Rabu, 03 September 2025

Mencari sembuh

Tubuhku tidak sakit,
tapi aku selalu mencari sembuh.
Ada sesuatu yang tak terlihat,
menggerogoti dalam diam,
seperti hujan yang turun tanpa suara,
membasahi tanah sampai runtuh.

Aku juga hancur,
namun aku memilih diam.
Sebab bila aku bicara,
yang keluar hanyalah pecahan-pecahan
yang tak seorang pun sanggup menampung.
Aku belajar menelan air mata,
sampai tenggorokan ini terasa karat.

Temui aku,
bila kau punya keberanian,
di penyesalan yang tak sanggup kau sentuh.
Di ruang yang paling kelam,
aku menunggu—
bukan dengan harapan,
tapi dengan keputusasaan yang diam-diam tumbuh
seperti akar liar di dada.

Aku ingin berteriak,
tapi tak ada suara yang tersisa.
Aku ingin berlari,
tapi kaki ini terikat oleh ingatan.
Aku ingin lupa,
tapi kepalaku adalah penjara,
dan aku narapidana yang mengulang hukuman
setiap malam.

Jika kau datang,
kau akan menemui sisa diriku:
bukan lagi cahaya,
melainkan abu yang bertebaran,
rapuh disentuh,
hancur dalam genggaman.

Aku tidak meminta kau memperbaiki,
aku tahu itu mustahil.
Aku hanya ingin kau tahu—
bahwa di balik diamku,
ada luka yang tidak pernah berhenti berdarah.
Bahwa di balik senyumku,
ada aku yang terus-menerus mati,
setiap hari.

-Perempuan Penggemar Rindu-

Selasa, 02 September 2025

Senja, apakah aku boleh marah?

Senja, apakah aku boleh marah? 
Aku lelah menahan semuanya sendiri. 
Terlalu sering aku menelan air mata sampai asin dan pahitnya mengendap di dada, berubah menjadi darah yang membuatku sesak. 
Aku ingin berteriak, tapi suaraku selalu patah sebelum sampai ke bibir. 
Seolah dunia tidak pernah mau benar-benar mendengar, seolah semua orang sibuk menutup telinga sambil berkata, sabar, sabar. 
Padahal sabar itu sudah lama menahanku dalam kurungan yang gelap.

Tapi, senja—
Aku muak dengan diam yang dipuja!
Aku muak. 
Muak pada topeng tabah yang mereka paksa kupakai, muak pada nasihat kosong yang menusuk lebih dalam daripada luka.
 
Aku ingin marah, senja, aku ingin teriak sekeras-kerasnya sampai langit retak, sampai bumi terguncang, sampai semua dusta runtuh dan semua kepura-puraan tak bisa lagi disembunyikan.
Aku bukan batu yang bisa dipukul terus tanpa hancur. 
Aku bukan tanah yang bisa diinjak tanpa bekas.
 
Aku manusia, senja. 
Aku rapuh, aku sakit, dan aku ingin dunia tahu. 
Kalau marah adalah dosa, biarlah aku berdosa. 
Biarlah aku terbakar oleh amarahku sendiri, asalkan aku bisa merasa bebasbebas dari penjara yang mereka namakan tabah.

-Perempuan Penggemar Rindu-






















Jumat, 14 Maret 2025

Ayah, Aku Ikhlas Tapi Aku Capek

Ayah, aku ikhlas  tapi aku capek

Capek pura-pura engga kenapa-napa

Capek mengubur semua mimpi-mimpi

Capek karna terus berlari yang engga tahu kemana arahnya

Capek karna harus terus berdiri sendiri


Menjadi kuat, meski hidup sudah berantakan

Menjalani hari dengan senyum yang ku paksakan

Berpura-pura baik saat jiwa ini sudah tumbang

Kemana aku harus pulang?

Sedangkan setiap hari, aku cuman bisa bertarung dengan apa yang dunia butuhkan


Ayah, aku ikhlas tapi aku capek

Aku capek bertahan sendirian

Sedangkan banyak yang butuh aku untuk terus bertahan

Dan sepertinya memang benar, kalau bukan aku yang beresin, siapa lagi?

Nanti semuanya berantakan lagi


Ayah, aku bisa baik-baik saja disini

Tapi banyak tawa palsu yang sering aku jadikan pelindung untuk menutupi luka

Biar mereka semua tahu, bahwa aku memang sebaik-baik saja itu

Dan biar mereka semua tahu, bahwa sedang tidak terjadi apa-apa

Sepandai itu aku menutupi dengan topeng yang aku miliki


Tapi ayah, jujur aku kadang engga kuat

Apalagi setiap aku engga bisa wujudin keinginan yang ayah mau

Hal-hal apa yang mamah butuh

Sampai apa yang aku butuh pun, harus aku taruh di halaman kesekian


Ayah, ini capeknya harus dikemanakan ya?

Aku takut semakin sakit dalam memendam marah

Aku takut jadi banyak salah

Ayah, ini arahnya kemana ya?



-PerempuanPenggemarRindu-