Rabu, 12 Oktober 2022

Bait-bait Semusim

 Ada yang pergi tanpa permisi

Ada yang hilang tanpa bilang

Ada yang pisah tanpa berbuat kisah

Dan ada yang akan tetap dirindukan meski sudah dipendam


Apa Tuan sudah pernah tahu?

Bahwa telah lama rindu berjihad melawan waktu

Melawan jarak demi sebuah sapa dan janji temu

Hingga lelah menunggu ribuan pelukan yang tak sempat dicumbu


Tuan, dalam sajak-sajak berbisik gundah

Ada puan insomnia yang resah

Lelah memuja harap

Lelah menghitung sepi yang mulai bernyawa, pada yang kerap menorehkan luka


Malam semakin membawa gelisah

Menyebabkan sakit karna dipermainkan waktu

Dan berujung kecewa

Aku menjadi hampa


Candunya makin sekarat

Candunya membutuhkan dekap

Tuan, puan ini sedang mengalami sebuah rindu yang bangsat

Dan hanya tuan yang mampu menjadi obat


Bait-bait semusim kini telah berganti

Aku berlari tanpa menepi

Mencari kehangatan matahari

Namun, kau tak kunjung kembali

Dan hanya menggantung di atas bumi.


-PerempuanPenggemarRindu-

Tentang Hujan dan Secangkir Kopi

Biar aku ceritakan
Batang-batang hujan yang patah
Diatas genteng rumah
Tanah-tanah yang kembali basah
Menyapa soremu dengan indah

Hujan kali ini hanya ingin sekedar bertukar kabar
Bahwa disini 
Tak ada jeda bagi jera
Untuk menengahi kopi dan gula

Mungkin memang hujan
Melarut segala angan
Membawa kembali kenangan
Menghadirkan kembali mimpi yang enggan di ceritakan
Mengingat kembali dimana kita masih penuh kehangatan

Secawan hangatnya arabika
Meluap rona yang tak terbaca
Melerai angan yang beku
Mengikat haru yang berpadu

Cih, jadi ini rasanya rindu?
Dalam balutan hujan yang abadi
Rindumu takkan pernah pergi
Dalam kehangatan secangkir kopi
Mengingatkan ku pada kisah yang telah mati

Bersama pilu yang membilah hati
Arabika yang wangi, menyisakan sunyi
Bersama hujan yang tak kunjung berhenti
Perlahan ku bunuh kembali kamu dengan secangkir kopi.

-PerempuanPenggemarRindu-