Kamis, 03 Desember 2020

Biar Langit yang memutuskan

Tentang sepotong senja

Kau, aku, dan kenangan tentang setapak jalan berdebu belantara,

Akasia-ada sebuah perjalanan luka.


Apakah hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualangmu?

Apakah cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu?

Lalu, aku bisa apa?

Bertahan dalam pekat, atau pergi dengan luka yang melekat.


Dimana belas kasih itu?

Bersama mu seperti mimpi semu

Hanya bisa merasakan abadinya luka

Padahal dalam hati tersimpan banyak do'a


Bagaimana harus ku hentikan air mata?

Impian kita hanya sebatas dalam mimpi

Biarlah langit yang memutuskan

Tentang akhir cerita cinta kita


-PerempuanPenggemarRindu-

Senin, 26 Oktober 2020

Dirimu, fatamorgana.

Aku akan bercerita

Bukan tentang kisah cinta

Ataupun tentang lara

Mungkin...

Hanya sekedar fatamorgana.


Tuan,

Kau tidak tahu bukan bahwa ada sepasang mata yang selalu menatapmu dari kejauhan

Merekam senyuman yang selalu kau perlihatkan

Mengingat setiap canda yang terjadi

Semua tersimpan rapih dalam memori.


Apa kau merasakannya?

Apa kau sadar tentang semuanya?

Ah sudahlah...

Mungkin semesta mempertemukan kita bukan untuk dijadikan sebuah kisah

Kamu hanya sepotong cerita yang pernah singgah.


Mengharapkanmu, hanyalah angan semu

Cukup sudah, biar ku simpan semua cerita tentang mu

Biar terkikis oleh putaran waktu

Meski kini aku tak lagi dapat bertemu denganmu.


-PerempuanPenggemarRindu- 

Jumat, 23 Oktober 2020

Senja yang mati

 Hei, kemarilah!

Sudah lama kita tidak bersua

Apakah kau sudah bahagia?

Ataukah kau masih menjaga?


Ah, sudahlah

Bagaimana bisa menjaga sesuatu yang sudah bukan milik?

Apa tidak membuatmu merasa terusik?


Aku sendiri menyusuri luka terdalam

Tatapku kosong bagai tak bernyawa

Kemana? kemana larinya senja?

Sudah setengah remuk jiwa raga


Membiarkan ia pergi

Membuat hampa semakin menjadi

Dan aku ingat, senja ku telah mati

Tak mungkin ia kembali.


-PerempuanPenggemarRindu-

Kamis, 22 Oktober 2020

Tentang rasa, kamu dan harap

Ku tulis catatan cinta dari hati yang tersembunyi

Ku tulis untaian kata untuk sebuah nama

Ku curahkan semua dalam ungkapan kata sederhana


Hari ini, aku berjumpa lagi dengannya

Seperti biasa,

Lagi-lagi aku hanya bisa mengaguminya

Tanpa pernah berbicara bahwa aku jatuh hati padanya

Seperti biasa,

Lagi-lagi aku hanya bisa memendam

Mencintainya dalam diam


Senyumannya yang selalu tersimpan dalam memori

Tatapannya yang selalu mengusik hati

Membuat diri ini semakin lupa diri


Tuan,

Semua hal tentang dirimu

Hanya berakhir dalam rindu

Semua masih tampak semu

Untuk bisa mendapatkanmu


-PerempuanPenggemarRindu-

Selasa, 08 September 2020

Semesta terkadang usil

Kisah cinta denganmu memang tidak sempurna,
Percayalah, 
Melupakanmu adalah hal sukar luar biasa.

Semesta terkadang usil
Mempertemukan dua jiwa yang kesepian
Memberikan mereka teman untuk saling menemani 
Sebelum akhirnya menarik mereka lepas dari satu sama lain.

Lucunya adalah, 
Ketika aku harus melepaskan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar aku genggam.

Sialnya,
Dengan hadirnya rasa, hadirnya cinta
Aku harus melewati kenangan yang menjadi luka.

Dengan jarak yang memperkenalkan diri bersama curiga dan ragu
Akhirnya, semua telah termakan oleh waktu. 

Berpura-pura bahagia
Padahal berharap ada kesempatan kedua 
Berpura-pura lupa
Padahal sudah menguras banyak tenaga.

Setelah kepergianmu, 
Aku tidak tahu harus berbuat apa
Oh, atau mungkin Tuhan sedang tak berpihak pada kita
Karna semata-mata,
Kita hanyalah bagian dari masa lalu satu sama lain yang fatamorgana.

-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 05 Agustus 2020

Untuk Calon Imamku

Dear calon imamku
Butuh waktu yang tidak sebentar dalam pencarianmu,
juga penantianku.
Aku tahu itu.
Kau tahu, jauh sebelum aku dipertemukan denganmu
Aku pernah berkelana di masa lalu yang kelam
Masa lalu yang begitu menyakitkan
Dengan hati yang penuh goresan.

Kini, semua itu terlalui dan menjadikanku sosok yang mampu berdiri lagi.
Dan aku sadar, bahwa hanya dirimulah yang sejati
Yang telah dipersiapkan Tuhan untukku.
Untuk menjadi imam dalam hidupku.

Untukmu seseorang yang akan menemaniku dimasa depan
Untukmu seseorang yang akan menjadikanku pelabuhan
Izinkan aku mencintaimu dengan sungguh karna Tuhan
Izinkan aku menjadi penyempurna separuh agamamu.

Untukmu yang nanti akan menghalalkanku
Untukmu yang nanti akan menjabat tangan ayahku
Untukmu yang nanti kehadirannya pun akan menyempurnakan imanku
Aku akan disini menunggumu
Semoga Tuhan memudahkan setiap langkahmu
Dari aku, makmum masa depanmu.

-PerempuanPenggemarRindu-

Senin, 22 Juni 2020

Gurat Hati

Hei, ini sudah larut malam
Mengapa kau belum juga terpejam?
Apa yang sedang kau resahkan?
Apa yang sedang kau dustakan?

Ini sudah melewati batas berpikir
Kau harusnya sudah bermimpi
Biar saja, rindu menyiksamu lagi
Dan jangan kau usir

Cukup pejamkan saja matamu
Rebahkan saja tubuhmu
Biar rembulan malam yang menyampaikan pesanmu
Aku tahu, kamu sedang dirundung pilu

Lelah oleh harap yang tak kunjung mendekat
Muak oleh janji-janji yang semu
Tetaplah menguat
Karna waktu takkan melemah untukmu

-PerempuanPenggemarRindu-

Minggu, 21 Juni 2020

Aku Pernah

Aku pernah hancur karna terlalu percaya
Aku pernah hancur karna memilih orang yang salah
Pernah kecewa lalu patah
Pernah menunggu ia yang tak kunjung dapat restu.

Aku juga pernah menunggu, ketika ia menunggu yang lainnya
Aku juga pernah menyelami hati yang ingin coba ku mengerti
Pernah menelisik hidup untuk ia yang dingin dan tak kunjung bergeming.

Aku pernah memutuskan untuk berjuang
Ketika ia memperjuangkan yang lain
Aku pernah hancur berkeping-keping
Ketika ia berpaling.

Hatiku juga pernah tertikam lagi
Ketika ia datang kembali
Pernah jatuh lagi
Karna memberi kesempatan sekali lagi.

Aku pernah sehancur itu
Aku pernah seperti itu
Berkali-kali bangun hanya untuk dihancurkan
Aku hanya ingin kau tahu
Bahwa aku pernah seterpuruk itu.

Untukmu yang dulu singgah
Aku kira kau sudah selesai dengan urusan masa lalumu
Aku kira, aku telah mendapatkan ruang itu
Nyatanya, rencana kebersamaan kita hanya sebatas do'a
Semesta memang senang bercanda
Menjadikanku sosok yang penuh luka
Kamu, semoga bahagia.

-PerempuanPenggemarRindu-

Luka yang aku rindu.

Ku buka lagi lembaran kenangan kita waktu itu.
Ternyata, kita memang saling mengisi ya, dulu.
Sebelum akhirnya kau pergi meninggalkanku.
Dan hidup menjadi kembali warna kelabu.

Tolong, jangan siksa aku dengan perasaan rindu.
Tetap saja akan berakhir pilu.
Karna kita sudah tidak jadi satu.
Dan kita hanyalah memori yang telah lalu.

Usang terkikis oleh waktu.
Tanpa adanya temu.
Memendam pilu.
Dan kau adalah luka yang aku rindu.

-PerempuanPenggemarRindu-

Kamis, 30 April 2020

Secangkir Kopi

Kopi ini memang pahit, tapi kamu sanggup meneguknya
Hidup ini pahit, lalu mengapa kau masih berkeluh kesah menghadapinya?
Katakan, tambahkan gula untuk kopi ini
Sebab itu, kamu harus mencari pemanis untuk hidupmu

Terkadang, kamu campurkan dengan susu
Sekarang aku tahu, kalau setitik putih dapat melebur pahitnya hitam
Kopi ini hangat, kamu harus seperti itu untuk menemani hati yang dingin
Ya tak apa, aku suka dingin. Karena sekiranya itu kunci setia

Kopi hitam, kopi pahit
Tambah gula atau susu
Hangat atau dingin
Tapi, seharusnya tidak ada pemanis untuk hal yang dikodratkan pahit.
Bagaimana jika suatu hari, kita menikmati secangkir kopi dikedai yang sama
Walau pahit, setidaknya hanya kita berdua
Tapi, itu hanya gumamku saja.

-PerempuanPenggemarRindu-

Selasa, 10 Maret 2020

Tak Perlu Risau

Tenang saja, tidak usah khawatir.
Aku sudah tidak akan menunggumu lagi.
Aku juga tidak akan mencari atau menanyakan apapun tentangmu lagi.
Aku sudah merasa cukup, atas apa yang telah kita lalui.
Biarkan sisanya menjadi misteri.

Kita sudah berjalan masing-masing tanpa ada ikatan apapun lagi.
Biarkan sisanya menjadi rahasia dihati.
Terkubur dalam kenangan yang tidak akan digali kembali.

Sudah cukup kau beri luka,
Sudah cukup dirundung nestapa.
Tidak usah khawatir, aku sudah mahir dalam mehanan getir.
Lama-lama aku akan terbiasa dengan dirimu yang tidak lagi hadir.

Tenang saja, aku tidak akan merindumu lagi.
Simpan saja semua dalam memori.
Jangan kau buka lagi, karna kita sudah mengakhiri.

-PerempuanPenggemarRindu-

Rabu, 04 Maret 2020

Rumit

Malam itu, dimana aku pertama kali melihatmu.
Pertemuan didepan teras rumahmu, membuat aku diam membisu.
Seakan kau adalah candu, 
Membuatku semakin terbayang oleh parasmu.

Rindu seakan egois, mengikis hati hingga habis.
Kau itu hanya ilusi, yang tercipta antara nyaman dan harapan.
Ku bunuh perlahan perasaan, 
Biar ia tenggelam dalam kubangan. 

Namun, apa daya?
Semesta seakan mempersatukan kita, tanpa sekat.
Terasa begitu sangat terikat. 
Nyatanya, itu hanya sebuah jerat.

Ku kira, kita saling memiliki. 
Namun nyatanya, ini lebih rumit dari yang terjadi.
Kau mengetuk pintu hati dengan permisi, 
Lalu kau pergi tanpa menutup kembali.

Aku kembali patah karena terlalu mencintai. 
Dan kau? Pura-pura menyesali.
Rumit bukan?
Oh, persetan!

Aku lelah oleh harapan!
Aku sudah muak dengan segala bualan!
Seakan aku adalah ketidakpastian yang kau abadikan.

Adakah hak ku untuk mengungkapkan?
Bahwa kau tak lebih dari seorang pecundang?
Sudahlah, ini terlalu rumit untuk dijabarkan.

-PerempuanPenggemarRindu-

Jumat, 24 Januari 2020

Apakah hidup senang bercanda

Apakah hidup memang senang bercanda?
Aku menjadi semakin muak dengan segala retorika yang ada
Berpura-pura kuat menahan luka
Berpura-pura untuk tetap baik-baik saja.

Apakah hidup hanya untuk berpura-pura?
Apa kita terlalu lemah untuk menghadapi realita?
Menjadikan kuat hanya untuk sebagai tameng belaka
Nyatanya diri tak sekuat yang dikira

Sadarlah, kita ini hanya manusia biasa
Berada dititik terendah dalam kehidupan atau bahkan berada diatas titik kehidupan sekalipun, Kau tetap manusia yang lemah
Hatimu tak sekuat baja bung! Hanya saja kita tetap memaksakan diri untuk selalu terlihat tegar.

Hidup kadang memang senang bercanda
Semesta senang bermain dengan cuaca
Apakah dengan menangis kita terlihat begitu hina?
Tidak sayang, suatu hal yang lumrah disaat kau sudah lelah akan semua.

Apakah hidup hanya untuk merasakan kecewa?
Merasa tak adil akan semesta yang kadang suka semena-mena
Apakah hidup hanya untuk merasakan sakit?
Ingin sekali rasanya menjerit diatas bukit
Apalah daya, diri ini terlalu lemah untuk bangkit

Kau tahu? Menyemangati diri sendiri adalah bagian tersulit daripada menyemangati orang lain.
Bukan tak sayang pada diri sendiri melainkan terlalu perduli pada orang lain
Mau sampai kapan berada dalam kepura-puraan untuk kuat?
Mau sampai kapan berada didalam zona kelabu sendirian?
Menahan segala rasa pahit kehidupan.


-PerempuanPenggemarRindu-

Bukan aku, tapi Ibu

Bukan aku yang kuat, tapi ibuku.
Bukan aku yang hebat, tapi ibuku.
Bukan aku pula yang mampu menopang segala resah dan gundah
Tetapi ibuku pula yang mampu menerjang segala patah

Ibu, telah kau berikan segala rasa
Kau taruhkan segenap nyawa
Walau terasa sesak didada
Kau tetap mampu menghadapi semua

Bu, hatimu seluas samudera
Tak terhingga untuk menahan sakit didada
Sesak yang menyiksa jiwa dan raga
Tak menjadikanmu lemah dan tak berdaya

Bu, ijinkan aku menjadi tempat keluh kesah mu
Ijinkan aku menjadi bahu saat tak ada tempat untuk mengadu
Cukup sudah kau pendam sendiri rasa sakit dihatimu
Bu, hidup memang sebercanda itu

Semesta kadang senang bercanda dalam sendu
Jangan biarkan harimu menjadi kelabu
Awan hitam nan mendung dihatimu semoga cepat berlalu
Bu, aku menyayangimu.


-PerempuanPenggemarRindu-