Rabu, 04 Maret 2020

Rumit

Malam itu, dimana aku pertama kali melihatmu.
Pertemuan didepan teras rumahmu, membuat aku diam membisu.
Seakan kau adalah candu, 
Membuatku semakin terbayang oleh parasmu.

Rindu seakan egois, mengikis hati hingga habis.
Kau itu hanya ilusi, yang tercipta antara nyaman dan harapan.
Ku bunuh perlahan perasaan, 
Biar ia tenggelam dalam kubangan. 

Namun, apa daya?
Semesta seakan mempersatukan kita, tanpa sekat.
Terasa begitu sangat terikat. 
Nyatanya, itu hanya sebuah jerat.

Ku kira, kita saling memiliki. 
Namun nyatanya, ini lebih rumit dari yang terjadi.
Kau mengetuk pintu hati dengan permisi, 
Lalu kau pergi tanpa menutup kembali.

Aku kembali patah karena terlalu mencintai. 
Dan kau? Pura-pura menyesali.
Rumit bukan?
Oh, persetan!

Aku lelah oleh harapan!
Aku sudah muak dengan segala bualan!
Seakan aku adalah ketidakpastian yang kau abadikan.

Adakah hak ku untuk mengungkapkan?
Bahwa kau tak lebih dari seorang pecundang?
Sudahlah, ini terlalu rumit untuk dijabarkan.

-PerempuanPenggemarRindu-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar