Kamis, 21 Desember 2023

Apa itu "rumah"

Hai, lama tak bersua. Banyak sekali hal-hal yang telah terlewati, tapi tidak aku ungkapkan lewat tulisan.

Maaf ya, ini terlalu rumit. Aku pun tidak tahu harus memulai cerita ini darimana. Aku bingung harus menuliskan bagian yang mana dulu.

Kau tahu? Aku sehancur itu sekarang. Aku kehilangan diriku.

Tapi, mau hancur, rusak, retak sekalipun, hidup tetap terus berjalan bukan?

Tetap membuat keputusan dalam bagaimana kita menjalani hidup ini.

Kini segalanya telah hilang. Hidup dan mimpiku menjadi kosong.

Hampa menjadi nafasku.

Semesta memang selalu punya lelucon yang bangsat.


Saat ini, aku sedang terombang-ambing dalam kesendirian.

Sepiku semakin menyeruak, ingin berteriak mana rumahku?

Apa itu rumah? Apakah yang cukup mempunyai atap?

Tapi bagaimana dengan isinya? Kosong, hampa, sunyi.

Ada banyak sekali telinga, tapi tidak ada yang bisa dijadikan pendengar.

Punya tempat pulang, tapi tidak pernah merasa bahwa aku sedang pulang.

Apakah ini yang namanya rumah?

Tersesat di dunia yang terlihat luas tapi sangat sempit.

Terkurung dalam alur yang semakin gila.


Kata orang, rumah adalah tempat ternyaman.

Tempat dimana bisa menumpahkan segala kerisauan, penat, dan istirahat dari hiruk pikuknya dunia fana.

Nyatanya, rumah tidak selalu nyaman untuk sebuah kepulangan.

Tempat yang dikira nyaman, tapi ternyata menghancurkan.

Nyatanya, tetap saja hanya diri sendiri tempat untuk pulang.

Tempat berlari, bersembunyi, di antara gelapnya kehidupan.

Pura-pura kuat hanya karna tak ada pundak untuk bersandar.

Kadang, kita harus mengerti bahwa tidak semua rumah itu ramah.

Beberapa rumah justru memberi luka paling banyak untuk penghuninya.

Rumah ini sudah terlalu rusak untuk disatukan, terlalu hancur untuk diperbaiki.

Rumah yang terlihat utuh, bukan berarti tidak runtuh.

Lalu, kemanakah harus berteduh, berlari, dan berhenti sejenak jika rumah sudah bukan rumah lagi?



-PerempuanPenggemarRindu-

Senin, 20 Maret 2023

Pengkhiantan

 Aku melewati titik terhancurku sendirian

Kau mungkin melihatku baik-baik saja selama ini

Tapi pahamilah, sekali kau mengkhianati

Kau takkan menemui versi yang sama dari diriku lagi

Aku tidak akan memberikan toleransi konstan pada setiap pengkhinatan


Kau tahu?

Apa yang menyakitkan dari sebuah pengkhianatan?

Sebab ia tak pernah berasal dari lawan

Bukan salah mu, pun bukan salah ku

Kita hanya terlalu bodoh


Pada akhirnya, kita sama-sama saling membenci

Kau tahu? Hatiku selalu berkata bahwa ia mampu menuliskan satu buku penuh tentang pengkhianatanmu

Tapi akal ku berkata bahwa aku tak perlu repot-repot untuk sekedar mengingat sampah

Lantas, apa yang masih tersisa dari puing ini?


-PerempuanPenggemarRindu-

Orang lain tidak mungkin paham

Orang lain tidak mungkin paham sama kita

Sebelum mereka ngerasain sendiri apa yang kita alamin

Orang lain tidak mungkin tahu gimana kerasnya kita ngejalanin hari-hari

Yang bahkan diri sendiri pun sudah muak dengan rutinitasnya.


Orang lain cuman bisa bilang semangat ya! Jangan menyerah

Kamu hebat, sudah bisa bertahan sampai di titik ini

Yang bahkan aku sudah bosan mendengar kata-kata itu

Tapi, tiap kali di tanya kenapa, cuman bisa jawab engga apa-apa


Padahal, sesungguhnya sudah tidak tahu lagi harus memulai cerita dari mana

Karena sudah terlalu banyak luka dan kecewa yang tak bisa di jelaskan

Orang-orang lebih suka meremehkan dan membandingkan hidupnya dengan kita

Yang bahkan diri sendiri ngejalaninnya hampir setengah mati


Berusaha tetap waras, mati-matian bertahan dengan keras

Lupa meluangkan waktu buat diri sendiri

Demi memenuhi keinginan dan harapan orang-orang

Hingga lupa bahagiain diri sendiri


Rasanya, ingin sekali berteriak

Memecahkan kaca demi kelegaan sementara

Apa aku memang di ciptakan hanya untuk memenuhi ekspektasi saja?

Membuat orang-orang sekeliling bahagia? Menjadi lentera dalam secercah cahaya?


Sedangkan, diriku sendiri sudah lama asing

Tidak saling kenal bahkan tidak paham lagi aku maunya apa

Seperti kehilangan jati diri

Aku sekarat, bertahan hidup agar tak mati saja


Aku tenggelam, lelah di hajar realita yang tidak sesuai

Di pukul mundur dengan kenyataan

Yang bahkan tidak bisa ku sebut itu kenyataan

Semua terasa terlalu pahit, terlalu gagal, hingga terlalu kencang badainya


Aku kehilangan arah mata angin

Untuk menentukan kemana langkah aku harus pergi pun tak bisa

Orang lain tidak mungkin paham

Bagaimana rasanya hidup penuh dengan tuntutan


Aku hanya ingin berlari

Aku hanya ingin tertidur tenang dengan isi kepala yang tidak berisik

Aku capek sama dunia

Aku mau pulang dengan ketenangan


Tuhan, bisakah peluk aku sebentar?

Aku sudah tidak peduli, kemana lagi aku harus pergi

Aku lelah, dengan jalan yang aku tapaki

Aku sudah runtuh, untuk diriku sendiri


-PerempuanPenggemarRindu-