Hai, lama tak bersua. Banyak sekali hal-hal yang telah terlewati, tapi tidak aku ungkapkan lewat tulisan.
Maaf ya, ini terlalu rumit. Aku pun tidak tahu harus memulai cerita ini darimana. Aku bingung harus menuliskan bagian yang mana dulu.
Kau tahu? Aku sehancur itu sekarang. Aku kehilangan diriku.
Tapi, mau hancur, rusak, retak sekalipun, hidup tetap terus berjalan bukan?
Tetap membuat keputusan dalam bagaimana kita menjalani hidup ini.
Kini segalanya telah hilang. Hidup dan mimpiku menjadi kosong.
Hampa menjadi nafasku.
Semesta memang selalu punya lelucon yang bangsat.
Saat ini, aku sedang terombang-ambing dalam kesendirian.
Sepiku semakin menyeruak, ingin berteriak mana rumahku?
Apa itu rumah? Apakah yang cukup mempunyai atap?
Tapi bagaimana dengan isinya? Kosong, hampa, sunyi.
Ada banyak sekali telinga, tapi tidak ada yang bisa dijadikan pendengar.
Punya tempat pulang, tapi tidak pernah merasa bahwa aku sedang pulang.
Apakah ini yang namanya rumah?
Tersesat di dunia yang terlihat luas tapi sangat sempit.
Terkurung dalam alur yang semakin gila.
Kata orang, rumah adalah tempat ternyaman.
Tempat dimana bisa menumpahkan segala kerisauan, penat, dan istirahat dari hiruk pikuknya dunia fana.
Nyatanya, rumah tidak selalu nyaman untuk sebuah kepulangan.
Tempat yang dikira nyaman, tapi ternyata menghancurkan.
Nyatanya, tetap saja hanya diri sendiri tempat untuk pulang.
Tempat berlari, bersembunyi, di antara gelapnya kehidupan.
Pura-pura kuat hanya karna tak ada pundak untuk bersandar.
Kadang, kita harus mengerti bahwa tidak semua rumah itu ramah.
Beberapa rumah justru memberi luka paling banyak untuk penghuninya.
Rumah ini sudah terlalu rusak untuk disatukan, terlalu hancur untuk diperbaiki.
Rumah yang terlihat utuh, bukan berarti tidak runtuh.
Lalu, kemanakah harus berteduh, berlari, dan berhenti sejenak jika rumah sudah bukan rumah lagi?
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar