Selasa, 29 Oktober 2019

Persetan dengan kebisuan

Kau tak tahu, seberapa kali mata ini kembali basah.
Kau tak tahu, seberapa banyak bantal ini menerima tetesan demi tetesan yang terurai dari mata.
Seberapa banyak tangisan yang ku buang sia-sia dan kau tak mengetahuinya.
Tuan, mengapa kau membuat diriku terasa begitu lemah?

Kau tak tahu bukan, seberapa kuat aku menahan jeritan tangisan malam?
seberapa remuk redam aku dalam diam?
Menangis tanpa suara, padahal hati sudah ingin menjerit!
Menahan kecewa dengan sengit!

Pertarungan hati dan pikiran semakin menjadi.
Memikirkan aku harus bertahan atau beranjak pergi?
Apakah hatimu masih layak aku huni?
Apakah hatiku masih kuat bertahan sendiri?
Menahan pilu bertubi-tubi, tapi kau acuh tak sadar diri.

Harus ku apakan perasaan ini, tuan?
Apakah aku harus tetap berdiri sendirian ditepi jalan?
Apakah aku harus tetap menunggu dalam kebimbangan?
Oh, persetan dengan kebisuan!
Aku benci jika harus terus melawan kerinduan, sendirian.


-PerempuanPenggemarRindu- 

Selasa, 15 Oktober 2019

Rasanya Jatuh Cinta

Begini ya rasanya jatuh cinta?
Ketika menatap mata teduhnya, seakan membius untuk selalu terpana.
Senyumannya yang melebihi manisnya gula, membuatku jadi gila.
Tutur bicaranya yang lembut, dan hangat peluknya seakan menjadikan dunia hanya milik berdua.

Oh tuan, beginikah rasanya jatuh cinta?
Hanya ada satu nama yang terucap dalam setiap do'a.
Yang selalu dibisikkan ke bawah bumi
Didalam tikungan sepertiga malam, saat yang lain asik dalam mimpi.

Saat tatapan saling bertemu, tangan saling menggenggam, dan kita saling berpagutan dalam ciuman lembut yang memabukkan.
Oh tuan, suatu kejutan yang membuatku kecanduan.
Diri ini mulai tidak waras adanya,
Karena semakin dibuat jatuh cinta olehnya.
Hingga berulang kali pada orang yang sama.

Tuan, hari-hari ku kini menjadi lebih penuh warna.
Aku sedang tidak berdusta.
Sungguh, aku sangat bahagia.
Dan aku, sedang dimabuk asmara.

Mungkin, aku setengah gila.
Karena aku selalu saja terbayang akan dirimu.
Entah sedang apa diriku, selalu saja dihadiri oleh bayangmu.
Oh, bahkan aku sampai terspu malu padahal aku dan kamu sedang tidak bertemu.
Oh sungguh, ini lucu.

Jadi, beginikah rasanya jatuh cinta?
Membuat diri ini seakan gila, pandangan menjadi buta
Namanya selalu saja berputar dikepala
Oh, mungkin ini namanya Surga dunia.


-PerempuanPenggemarRindu-

Andai saja

Andai aku dapat memutar kembali waktu
Lebih baik, aku tak mengenalmu.
Cukup dengan menjadi penggemar rahasiamu
Yang dapat bertemu tanpa adanya rindu.

Jujur saja, aku tak menyesal mengenalmu
Hanya saja, kita lebih lucu memandang dari jauh.
Saling malu-malu kucing dan menyimpan gossip diperkumpulan geng masing-masing.
Kamu yang mengenalku sebegitunya, sedangkan aku yang hanya sekedarnya.

Oh andai saja. Maafkan.
Bukan aku tak bersyukur pada Tuhan dan waktu yang telah membuat kita bertemu, sampai akhirnya kita bersatu.
Bukan aku tak berterimakasih pada alam semesta.
Hanya saja, aku kehilangan beberapa bagian dirimu saat kita pertama kali berjumpa.
Bertegur sapa, bertemu dan memupuk rindu, hingga akhirnya dekat tak ada sekat.

Namun, tahukah kau tuan? Aku kini sedang terisak.
Meratapi kisah kita yang agak berjarak.
Tuan, ada apa gerangan?
Apakah ada yang kau sembunyikan?
Tolong katakan, bahwa akulah yang kau inginkan.
Akulah rumah tempat kamu untuk pulang.
Kitalah rumah yang dibangun dengan penuh kasih dan sayang.

Tuan, andai kau tahu. Terlalu sering mata ini menangis.
Hati dan pikiranku semakin kronis.
Memikirkan hal-hal yang tidak realistis!
Membuat jiwa ini semakin meringis.

Tuan, tolong jangan kau buat lagi mata ini kembali basah.
Aku lelah berkeluh kesah.
Aku pun tak ingin disebut bahwa aku ini lemah.


-PerempuanPenggemarRindu-