Senja, apakah aku boleh marah?
Aku lelah menahan semuanya sendiri.
Terlalu sering aku menelan air mata sampai asin dan pahitnya mengendap di dada, berubah menjadi darah yang membuatku sesak.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku selalu patah sebelum sampai ke bibir.
Seolah dunia tidak pernah mau benar-benar mendengar, seolah semua orang sibuk menutup telinga sambil berkata, sabar, sabar.
Padahal sabar itu sudah lama menahanku dalam kurungan yang gelap.
Aku lelah menahan semuanya sendiri.
Terlalu sering aku menelan air mata sampai asin dan pahitnya mengendap di dada, berubah menjadi darah yang membuatku sesak.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku selalu patah sebelum sampai ke bibir.
Seolah dunia tidak pernah mau benar-benar mendengar, seolah semua orang sibuk menutup telinga sambil berkata, sabar, sabar.
Padahal sabar itu sudah lama menahanku dalam kurungan yang gelap.
Tapi, senja—
Aku muak dengan diam yang dipuja!
Aku muak.
Muak pada topeng tabah yang mereka paksa kupakai, muak pada nasihat kosong yang menusuk lebih dalam daripada luka.
Aku ingin marah, senja, aku ingin teriak sekeras-kerasnya sampai langit retak, sampai bumi terguncang, sampai semua dusta runtuh dan semua kepura-puraan tak bisa lagi disembunyikan.
Aku bukan batu yang bisa dipukul terus tanpa hancur.
Aku bukan tanah yang bisa diinjak tanpa bekas.
Aku manusia, senja.
Aku rapuh, aku sakit, dan aku ingin dunia tahu.
Kalau marah adalah dosa, biarlah aku berdosa.
Biarlah aku terbakar oleh amarahku sendiri, asalkan aku bisa merasa bebas—bebas dari penjara yang mereka namakan tabah.
Kalau marah adalah dosa, biarlah aku berdosa.
Biarlah aku terbakar oleh amarahku sendiri, asalkan aku bisa merasa bebas—bebas dari penjara yang mereka namakan tabah.
-Perempuan Penggemar Rindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar