Kau masih ingat kisah cinta pertamamu?
Aku masih. Bahkan sampai kini, bahkan setelah lima tahun semenjak terakhir kali kami bersama.
Bertemu di satu sekolah yang tidak disangka akan satu kelas.
Apakah kamu ingat?
Pertama kali kau ingin mendekati ku dengan cara memakan bekal nasi goreng ku di jam olahraga.
Sejak saat itu, aku sangat kesal terhadap dirimu.
Namun, kamu tidak ada menyerahnya untuk mendekatiku yang dibantu oleh teman-temanmu itu.
Semakin hari, aku semakin dibuat gila karna ulahmu yang tiada henti.
Waktu itu hari jum'at, dimana kamu membawa bunga palsu yang didapat dari membeli permen.
Kamu di gotong oleh teman-temanmu hanya untuk memberi bunga itu.
Akan tetapi, aku tidak suka sama sekali dan aku menangis tak mau menerima itu.
Karna apa? Aku membencimu.
Ya, aku membencimu karena telah membuat hari-hariku menjadi malapetaka.
Bagaikan melodi yang membuat alunan disetiap suara.
Semakin hari, semakin dijalani.
Aku mulai terbiasa akan hadirmu dihidupku.
Setiap hari, saat ingin pergi ke sekolah, entah dirimu atau diriku selalu menjemput kerumah naik sepeda hanya untuk pergi bersama.
Saat kamu sakit, aku memboncengmu menggunakan sepedaku.
Saat aku yang sakit, kamu memboncengku dengan sepedamu.
Apa kau ingat sayang?
Ketika siang hari dimana kita sedang bermain bersama, kita memanjat pohon mangga depan rumah dan aku tak bisa turun?
Hahaha rasanya aku ingin memaki diriku sendiri.
Ingatkah kau sayang?
Ketika kita pergi mengaji bersama.
Dimana saat sore itu, kita saling mengakui perasaan masing-masing.
Menggunakan surat dan sebuah lagu Samsons "Kenangan Terindah".
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Warna hidupku berubah menjadi seperti pelangi.
Hingga saat yang tidak diinginkan terjadi.
Aku dan kamu harus berpisah alias LDR selama tiga tahun lamanya.
Saat itu kita tidak punya handphone, zaman belum secanggih saat ini.
Hanya melalui surat yang kadang sampai dengan tujuan yang tepat.
Kita tak pernah berkabar, tak pernah tahu keadaan masing-masing.
Hari-hari ku lalui dengan sendiri lagi.
Bersepeda sendiri lagi,sampai menunggu kau datang kembali.
Tiga tahun berlalu, dan aku kembali lagi bertemu denganmu di Bandung.
Saat itu, aku sedang bermain ditaman, dan kau lewat menggunakan sepeda.
Aku berteriak dan berlari agar tak ketahuan dirimu.
Sayang sekali, keberuntungan tak berpihak kepadaku.
Kau tahu itu aku, dan berlari mengejarku sambil berteriak "Tunggu!".
Padahal saat itu aku telah kembali membencimu, karna kau yang seenak hati meninggalkanku.
Setelah kau dapat mencegatku, tanpa ada ampun kau memelukku dan bilang rindu.
Persetan dengan rindu!
Setelah tahu apa yang kau lakukan saat jauh dariku.
Lemahnya aku adalah menangis dipelukmu.
Seakan ingin ku putar kembali waktu.
Tak lama, kau kembali pindah ke tempat kita dulu sering bersama.
Aku bertemu kau kembali, dan kau memberi kabar bahwa kita satu sekolah lagi dan satu kelas lagi.
Tidakkah kau egois sayang?
Aku berusaha mati-matian untuk melupakanmu dan dengan seenak jidat kau datang lagi dalam hidupku.
Oh tidak! kataku dalam hati. Jangan biarkan ia masuk dalam hidupku lagi.
Waktu semakin berlalu dan aku semakin takut untuk menghadapi kenyataan bahwa kau ada dihadapanku lagi sekarang.
Setelah kita lulus, aku menghilang bagai ditelan bumi.
Aku pergi ke jakarta dan tidak pernah ingin mencari tahu tentangmu.
Tetapi takdir berkata lain.
Setelah masuk kuliah, aku menemukan sosial mediamu.
Dan kau pun melihat sosial mediaku.
Dan, hal yang aku takutkan pun terjadi. Kau menghubungi aku lagi!
Oh tidak! malapetaka apalagi yang akan terjadi.
Tapi, aku berusaha untuk baik-baik saja.
Aku berusaha menghindar perlahan, tapi tak bisa.
Kamu selalu ada cara untuk menghubungi aku lagi.
Hingga akhirnya, aku berusaha terbiasa dan berteman baik kembali dengan kisah kita yang telah terkubur lama.
Oh Cinta Pertama.
Terimakasih atas kisah yang kau beri selama lima tahun lamanya.
Dan kini kau hadir lagi dengan tema yang berbeda.
Dan kau selalu saja mengajak bernostalgia.
Padahal aku dan kamu sudah bukan siapa-siapa.
Hanya teman biasa yang kamu bilang tidak akan pernah lupakan kisahnya.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar