Aku pernah mengerti tentang dirimu.
Aku pernah sangat tahu sebelum kamu menjadi seseorang yang asing bagiku.
Entah mengapa perhatianmu tak lagi seperti perhatian yang kuberikan.
Sikapmu tak lagi sehangat dahulu.
Tatapanmu tak lagi setajam dahulu.
Seperti terbagi.
Apakah ada kesalahan diantara aku dan kamu?
Kamu mungkin tak akan pernah ingin sibuk memikirkanku.
Salahkah aku jika menangis karenamu?
Aku selalu kehilangan sosokmu, dan kamu selalu pergi mempermainkan perasaan yang kau sebut-sebut sebagai cinta.
Apakah benar ini cinta?
Jika kamu merasa kita saling memaksa, sebenarnya dulu kita tak pernah berfikir seperti itu sebelum akhirnya kau dengan berani menyelipkan dia di sela-sela kita berdua dengan rasa tak berdosa.
Janjimu sangatlah banyak. Hingga tak sempat kamu tepati, bahkan kau lupakan begitu saja. Kamu sering kali menyakiti, tapi berkali-kali juga kumaafkan.
Aku hanya terdiam melihat kenyataan yang terus menamparku hingga tak sadarkan diri.
Bukan hanya itu, kamu bahkan menghempaskanku dengan begitu halus.
Seberapa tak pentingnya aku?
Sampai-sampai kau tak merasakan apa yang selama ini kulakukan dan kuperjuangkan.
Dimana letak hatimu saat itu? Apakah kau tak berperasaan?
Apa aku tak begitu pantas?
Tapi, tenang saja sayang, kau tak perlu memperhatikanku lagi.
Bukankah sekarang dirinyalah yang kau anggap telah berkorban banyak.
Sedangkan aku? Ya, aku sudah terbiasa tersakiti kok, apalagi sebabnya adalah kamu.
Aku bisa melakukan semuanya sendiri, walaupun aku berbohong dengan hatiku sendiri.
Biarlah aku berteman dengan sepi dan mengobati lukaku.
Semoga saat kepulanganku nanti kau tak akan lagi menjadi seseorang yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar