Rumah seharusnya pulang,
tapi di sini aku belajar menelan suara sendiri.
Tertawa hanya hiasan,
menangis dianggap durhaka.
tapi di sini aku belajar menelan suara sendiri.
Tertawa hanya hiasan,
menangis dianggap durhaka.
Aku tumbuh dari kata-kata yang tidak pernah lembut,
dari tatapan yang selalu mencari salah.
Mental ini bukan rapuh sejak lahir,
ia retak oleh orang-orang yang seharusnya menjaga.
Keluarga bilang, "Kami mendidik".
Padahal yang mereka lakukan adalah mematahkan perlahan,
lalu heran mengapa aku tak utuh
Menjadi dingin dan menjadi jauh.
Aku dipeluk tanpa kehangatan,
dinasehati tanpa empati.
Luka batin dianggap kurang iman,
kelelahan jiwa disebut drama.
Jika hari ini aku pendiam,
itu karena dulu suaraku tak pernah dipilih.
Jika hari ini aku keras pada diri sendiri,
itu karena rumah mengajariku mencurigai bahagia.
Aku tidak membenci keluarga,
aku hanya lelah terus memaafkan
tanpa pernah di minta maaf.
Dan bila suatu hari aku sembuh,
bukan karena mereka.
Melainkan karena aku memilih menyelamatkan diriku sendiri.
-Perempuan Penggemar Rindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar