Ayah,
Wajah mu yang rupawan, kini terkikis sudah oleh paparan panasnya matahari.
Senyum mu yang menawan, seakan tak pernah menunjukkan rasa kelelahan pada anakmu ini,
Padahal aku tahu, seberapa banyak pilu yang kau telan sendiri.
Ayah,
Kasih sayangmu takkan mampu digantikan oleh yang lain.
Didikanmu, menjadikan ku seorang anak yang disiplin.
Ketegasan sikapmu, luka-luka yang berbekas dalam tubuhmu
Tak menjadikanmu sosok ayah yang rapuh.
Ayah,
Kini tulang-tulangmu semakin rapuh
Anakmu ini belum mampu untuk menopangmu saat kau jatuh
Kini umur mu semakin menua dan aku terus beranjak dewasa
Tapi aku masih ingin terus dimanja.
Ayah,
Tetes keringatmu, senyumanmu, sikap tegasmu
Membuatku selalu rindu.
Saat ayah tidur, kutemukan sebuah kedamaian disana
Kedamaian asli tanpa topeng tanpa drama.
Kau menjadi dirimu yang sakit, rapuh dan menelan pahit-pahit segala derita.
Saat itulah aku tersadar, bahwa kau juga manusia biasa.
Ayah, betapa mulianya hatimu.
Kau banting tulang untuk anak dan istrimu.
Ayah,
Semoga Tuhan selalu memuliakan hidupmu,
Memberkahi hari-harimu, dan memperpanjang umurmu.
Hidupku, ku baktikan untuk ayah dan ibu.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar