Hai, sebut saja ia mantan.
Jangan kau sebut alumni karena siapa tahu bisa reuni.
Tetap saja namanya mantan.
Walau kadang tak saling berkabar tiap hari.
Hai, mantan? Apa kabar?
Lama tak berjumpa ya?
Untungnya jaman semakin canggih, bisa ketemu walau lewat medsos.
Kamu tak akan pernah menyangka kan bisa ketemu lagi?
Hai, mantan.
Terimakasih karena masih mau berteman.
Tidak selalu hubungan yang berakhir, pertemanan harus berakhir juga kan?
Aku hanya ingin tahu, mengapa kamu tidak bisa membenciku?
Seperti aku dulu yang sangat membencimu karena ulahmu.
Waktu berlalu, aku menjadikan lukaku ini sebagai teman.
Lama-lama aku terbiasa dan tidak sering ingat akan luka dahulu.
Kau tahu? Luka yang gores begitu dalam?
Khilafmu itu menyadarkan ku bahwa sesuatu yang digenggam terlalu erat akan lepas juga.
Mungkin tidak semua salahmu, tapi aku sakit hati mengapa kamu tak bisa setia?
Sudahlah, itu dahulu.
Sekarang, aku hanya bisa menghargai usahamu untuk menjadi lebih baik.
Aku senang masih bisa berteman denganmu.
Mungkin bisa saja disebut mantan terindah?
Hmmm mungkin iya mungkin tidak.
Terimakasih karna kamu telah sempat hadir dan memberi warna walau berakhir pahit.
Terimakasih karna kamu terkadang masih memberi warna pelangi walau setelah itu hilang kembali.
Aku masih temanmu. Tenang saja.
-PerempuanPenggemarRindu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar